Strategi “TACO交易” dari Trump Mengungkap Pola Negosiasinya: Mengancam dengan Tarif Ekstrem Terlebih Dahulu untuk Membuat Panik, Lalu Menyerah Secara Tepat Waktu untuk Mendapatkan Keuntungan. Dari Tarif Pembebasan Hari hingga Insiden Greenland NATO, Bagaimana Melihat Pola “Takut Terlebih Dahulu, Baru Menyerah” Ini dengan Jelas?
(Prakata: Trump Tidak Lagi Memberlakukan Tarif terhadap 8 Negara NATO: Telah Mencapai Kesepakatan Greenland, Bitcoin Kembali ke 90.000 Dolar, Indeks Saham AS Menguat Bersama)
(Latar Belakang Tambahan: Dana Pensiun Denmark Umumkan Akan Menutup Posisi di Surat Utang AS! Kepala Investasi: Trump Membuat Kredit AS Memburuk, Keuangan “Tidak Berkelanjutan”)
Daftar Isi Artikel
Hari ini (22) dini hari, Trump mengumumkan bahwa AS telah menyepakati kerangka awal keamanan Greenland dan Kutub Utara bersama Sekretaris Jenderal NATO di Forum Davos, serta menarik kembali tarif yang sebelumnya dijadwalkan berlaku mulai 1 Februari terhadap delapan negara NATO termasuk Denmark.
Perubahan dramatis ini kembali membuktikan satu pepatah yang populer di pasar: Trump selalu mundur saat menghadapi tekanan (TACO trading). Dari ancaman kenaikan tarif, gejolak pasar, hingga pengumuman mendadak “mencapai kesepakatan” untuk menunda pelaksanaan, kita sudah melihat skenario ini terlalu banyak kali.
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam: Apa logika di balik strategi negosiasi Trump? Bagaimana negara-negara di dunia saat ini merespons?
TACO adalah singkatan dari “Trump Always Chickens Out” (Trump Selalu Mundur Takut), mulai populer di dunia politik dan pasar keuangan AS sejak Mei 2025. Istilah ini berasal dari pengamatan analis terhadap pola perilaku pemerintahan Trump saat menerapkan “Tarif Pembebasan Hari”:
Trump sering mengancam akan menaikkan tarif, menciptakan kepanikan pasar, tetapi kemudian berulang kali menunda pelaksanaan demi mendapatkan waktu negosiasi lebih banyak, sekaligus memberi peluang pasar untuk rebound.
Singkatnya, TACO trading adalah strategi negosiasi “mengancam dulu, lalu menyerah” yang cerdas, dan para investor pintar mulai bertaruh pada pola ini untuk meraih keuntungan. Setiap kali Trump mengeluarkan ancaman tarif, mereka memperkirakan akan ada semacam bentuk kompromi akhirnya. Maka dari itu, saat pasar panik, mereka membeli, dan menjual saat pasar rebound.
The Financial Times pernah secara sistematis merangkum pola kerja “faktor TACO”, berikut beberapa contoh kasus klasik:
Kasus 1: Tarif Pembebasan Hari (April 2025)
| Tahap |
|---|
| Ancaman |
| Trump mengumumkan kenaikan tarif besar-besaran terhadap seluruh dunia saat “Hari Pembebasan” |
| Panik |
| Pasar saham global bergejolak, rantai pasokan terganggu |
| Menyerah |
| Sepekan kemudian, Trump mengumumkan “menangguhkan” langkah tersebut |
| Hasil |
| Pasar rebound, Trump klaim “negosiasi menunjukkan kemajuan” |
Kasus 2: Pemecatan Ketua Federal Reserve Powell (April 2025)
Trump secara terbuka meminta penggantian Ketua Fed Powell, menimbulkan kekhawatiran tentang independensi bank sentral. Namun beberapa hari kemudian, dia “menjauhkan diri” dari usulan tersebut, menegaskan tidak pernah benar-benar berniat melakukan hal itu.
Kasus 3: Tarif 50% terhadap Uni Eropa (Mei-Juni 2025)
Trump awalnya berencana mengenakan tarif 50% pada impor dari Uni Eropa, tetapi kemudian memutuskan menunda rencana tersebut hingga pelaksanaan, yang langsung mendorong pasar Eropa menguat tajam.
Kasus 4: Negosiasi Perdagangan AS-China (Mei 2025)
Dalam negosiasi dagang AS-China yang tegang, AS akhirnya berjanji mencabut sebagian tarif terhadap China, sebagai imbalan konsesi dari pihak China.
Kasus 5: Tarif Greenland NATO (Januari 2026)
Ini adalah kasus TACO terbaru. Trump pada 17 Januari mengancam akan mengenakan tarif 10% terhadap 8 negara anggota NATO (menaikkan menjadi 25% mulai Juni), dengan dalih memaksa Denmark melepaskan kedaulatan atas Greenland. Namun hanya 4 hari kemudian, dia mengumumkan di Davos bahwa tarif tersebut dibatalkan, dan menyebut telah mencapai “kerangka kesepakatan”, meskipun isi kesepakatan ini hingga kini masih tidak jelas.
Kasus-kasus ini mengungkapkan filosofi negosiasi Trump: “Tekanan ekstrem hanyalah pembuka, tujuan sebenarnya adalah mendapatkan konsesi saat lawan takut.”
Model negosiasi TACO Trump dapat dipecah menjadi beberapa langkah berikut:
Langkah 1: Mengeluarkan Posisi Ekstrem
Entah menuntut “pengambilalihan Greenland secara penuh” atau “menaikkan tarif 145% terhadap China”, Trump selalu memulai dari posisi paling ekstrem. Ada dua tujuan dari strategi ini:
Langkah 2: Mengamati Reaksi Pasar dan Politik
Tim Trump memantau performa pasar saham dan reaksi sekutu. Saat pasar jatuh tajam atau tekanan politik terlalu besar, itu sinyal untuk menyesuaikan strategi.
Langkah 3: Mencari Titik Kembali
Trump pandai mencari celah untuk dirinya sendiri. Entah melalui “kerangka kesepakatan”, “kesepakatan konseptual”, atau “negosiasi yang sedang berlangsung”, kata-kata kabur ini memungkinkannya untuk mundur sekaligus menjaga muka.
Langkah 4: Mengumumkan Kemenangan
Bahkan jika konsesi yang diberikan tidak banyak, Trump akan gencar mengumumkan “kemajuan besar” atau “kesepakatan bersejarah”, membungkus mundurnya sebagai kemenangan.
Meskipun “TACO” mengandung unsur ejekan, strategi ini dalam beberapa aspek memang menghasilkan efek:
1. Pasar sudah “terbiasa”
Investor perlahan belajar tetap tenang saat panik, karena mereka memperkirakan Trump akhirnya akan mundur. Ekspektasi ini justru mengurangi kekuatan ancaman tarif, dan Trump bisa mendapatkan keuntungan negosiasi tanpa benar-benar melakukan kebijakan destruktif.
2. Lawan dipaksa menyerah
Bahkan jika akhirnya tarif tidak sepenuhnya diterapkan, ancaman itu sendiri memaksa lawan untuk memberi konsesi. Contohnya, dalam kasus NATO Greenland, negara-negara Eropa mungkin melakukan komitmen tertentu terkait pertahanan Kutub Utara.
3. Menciptakan narasi “pemenang”
Setiap “mundur” selalu dibungkus Trump sebagai kemenangan diplomasi, memperkuat citra dirinya sebagai “negosiator terkuat”.
Tentu saja, strategi TACO tidak tanpa biaya:
1. Kerusakan reputasi
Ketika dunia tahu bahwa ancaman Trump hanyalah gertakan, ancaman di masa depan akan semakin sulit dipercaya.
2. Tantangan hukum
Penggunaan “Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional” (IEEPA) untuk mengenakan tarif sedang diproses di pengadilan tertinggi AS. Jika dinyatakan inkonstitusional, Gedung Putih harus mengembalikan tarif tersebut dalam jumlah besar.
3. Ketidakpastian ekonomi
Perulangan kebijakan yang tidak konsisten meningkatkan kesulitan perencanaan perusahaan, biaya restrukturisasi rantai pasokan tinggi, dan akhirnya beban biaya ini akan ditanggung konsumen.
Secara keseluruhan, strategi TACO Trump pada dasarnya adalah filosofi “tekanan ekstrem, berhenti saat sudah cukup”. Ia memanfaatkan kerentanan pasar keuangan modern: pasar saham sangat sensitif terhadap ketidakpastian kebijakan, dan sensitivitas ini bisa diubah menjadi alat negosiasi.
Namun, ketika dunia mulai terbiasa dengan skenario ini, efektivitas strategi TACO akan berkurang secara bertahap. Lebih berbahaya lagi, jika Trump secara terbuka diejek sebagai “penakut”, dia mungkin akan melakukan langkah yang benar-benar merusak demi mengembalikan muka.
Bagi investor, pola TACO bisa menjadi peluang trading: beli saat panik, jual saat rebound. Tetapi strategi ini juga berisiko, jika suatu hari Trump memutuskan untuk tidak lagi “chicken out”, konsekuensinya bisa sangat serius.
Bagi pemerintah negara-negara, strategi terbaik mungkin adalah: tanggapi setiap ancaman dengan serius, tetapi jangan terlalu panik. Pertahankan fleksibilitas negosiasi, tunjukkan solidaritas dan ketegasan, dan buat Trump tahu bahwa biaya tekanan berlebihan akan berbalas.