Dalam menilai nilai investasi sebuah perusahaan yang terdaftar, laba per saham sering menjadi indikator utama referensi. Tetapi banyak investor pemula tidak benar-benar memahami arti di balik angka ini, hanya melihat EPS meningkat lalu terburu-buru membeli saham dengan harapan harga akan naik, padahal hasilnya seringkali bertentangan dengan harapan. Artikel ini akan membahas secara mendalam makna sebenarnya dari laba per saham, serta mengajarkan cara menggunakan EPS secara tepat dalam pengambilan keputusan pemilihan saham.
Definisi Inti dari Laba Per Saham
Laba Per Saham (Earnings Per Share, disingkat EPS) pada dasarnya adalah sebuah konsep sederhana: membagi laba yang diperoleh perusahaan secara rata-rata ke setiap saham yang beredar. Secara spesifik, EPS mencerminkan berapa banyak keuntungan yang bisa diperoleh investor dari setiap satu saham yang dimiliki.
Dinyatakan dengan rumus:
EPS = (Laba Bersih - Dividen Saham Preferen) / Jumlah Saham Biasa yang Beredar
Indikator ini penting karena secara langsung menunjukkan efisiensi keuntungan perusahaan. Semakin tinggi EPS, semakin banyak keuntungan yang diciptakan perusahaan untuk setiap pemegang saham. Inilah sebabnya mengapa investor cenderung membeli perusahaan dengan EPS yang terus meningkat—ini menandakan kemampuan keuntungan perusahaan yang sedang membaik.
Praktik Perhitungan EPS: Contoh Bank AS
Konsepnya mudah dipahami secara teori, tetapi penerapannya yang nyata adalah tantangan. Mari kita lihat bagaimana EPS dihitung dari laporan keuangan Bank AS (BAC.US) tahun 2022.
Sebenarnya, laporan keuangan perusahaan sudah menghitung EPS untuk investor, Anda hanya perlu tahu di mana posisi data ini dalam laporan keuangan. Biasanya, di bagian laporan laba rugi konsolidasi, Anda akan langsung melihat baris “Earnings Per Share”.
Berapa EPS yang Baik? Kunci Utamanya adalah Tren, Bukan Nilai Absolut
Ini adalah pertanyaan paling umum dari investor, dan jawabannya mungkin akan mengecewakan: Tidak ada standar EPS “baik” yang baku.
Melihat angka EPS satu kuartal atau satu tahun saja tidak ada artinya. EPS perusahaan yang $2 atau $5 tergantung pada banyak faktor seperti industri, skala, model keuntungan, dan lain-lain. Yang lebih penting adalah:
1. Mengamati Tren Jangka Panjang
Jika EPS sebuah perusahaan meningkat secara konsisten dari tahun ke tahun, ini menunjukkan kemampuan keuntungan yang stabil membaik, dan perusahaan seperti ini layak diperhatikan. Sebaliknya, jika EPS terus menurun atau berfluktuasi, investor harus berhati-hati.
Contohnya, Apple (AAPL.US) selama 20 tahun terakhir, seiring penguatan posisi pasar dan ekspansi lini produk, EPS-nya naik dari kurang dari $1 menjadi lebih dari $6. Pertumbuhan yang berkelanjutan ini menjadi salah satu alasan investor optimis terhadap perusahaan tersebut.
2. Membandingkan Secara Horizontal dengan Industri Sejenis
Membandingkan EPS sebuah perusahaan dengan pesaing di industri yang sama dapat membantu menilai nilai investasi relatif. Misalnya, EPS perusahaan A adalah $2, sementara rata-rata industri adalah $1.5, maka perusahaan A relatif lebih menguntungkan.
Namun, ada jebakan yang harus dihindari: jumlah saham berbeda-beda antar perusahaan, jadi membandingkan EPS secara langsung bisa menyesatkan. Cara yang lebih andal adalah menggunakan Price to Earnings Ratio (P/E Ratio).
P/E Ratio = Harga saham / EPS
Contohnya, perusahaan A dengan harga saham $30 dan EPS $1 memiliki P/E 30; perusahaan B dengan harga saham $20 dan EPS $2 memiliki P/E 10. Tampak bahwa B lebih murah, tetapi ini juga bisa berarti pasar tidak terlalu optimis terhadap pertumbuhan B dibanding A.
Kebenaran tentang EPS dalam Pemilihan Saham: Tidak 100% Akurat
Banyak investor menganggap EPS sebagai “cawan suci” dalam memilih saham, tetapi kenyataannya jauh lebih kompleks.
Sebagai contoh, bandingkan tiga perusahaan raksasa di industri semikonduktor: NVIDIA (NVDA.US), Qualcomm (QCOM.US), dan AMD (AMD.US) selama 2018-2023:
Setelah 2020, EPS Qualcomm jauh lebih tinggi daripada dua lainnya. Jika hanya berdasarkan EPS, Qualcomm seharusnya menjadi pilihan terbaik. Tetapi kenyataannya, pengembalian investasi berbeda jauh: NVIDIA dalam 3 tahun mencapai return 251%, sedangkan Qualcomm hanya 69%.
Ini menunjukkan satu kebenaran penting: EPS hanyalah salah satu dimensi dalam menilai perusahaan, dan tidak mampu merepresentasikan nilai investasi saham secara lengkap.
Waspadai “Jebakan” di Balik EPS
Misteri Buyback Saham
Banyak perusahaan melakukan buyback saham untuk meningkatkan EPS. Dengan membeli kembali saham, jumlah saham yang beredar berkurang, sehingga EPS secara otomatis naik jika laba tidak berubah.
Contohnya, sebuah perusahaan dengan laba bersih $1 miliar dan jumlah saham beredar 1 miliar saham, EPS-nya adalah $1. Jika perusahaan melakukan buyback 200 juta saham, jumlah saham beredar menjadi 800 juta, dan dengan laba yang sama, EPS menjadi $1.25. Tampaknya profitabilitas meningkat, padahal kondisi operasional perusahaan tidak berubah.
Distorsi dari Item Khusus
Perusahaan yang menjual aset, mendapatkan insentif pajak, atau melakukan restrukturisasi aset akan mendapatkan pendapatan satu kali yang dihitung sebagai laba bersih, sehingga secara artifisial menaikkan EPS. Contohnya, perusahaan restoran menjual properti, perusahaan teknologi menjual paten, dan lain-lain.
Pendapatan satu kali ini tidak berkelanjutan, sehingga investor harus mampu mengidentifikasi dan mengabaikan faktor ini agar bisa melihat kemampuan operasional perusahaan yang sesungguhnya.
EPS Dasar vs EPS Dilusi: Perbedaan yang Perlu Diketahui
Laporan keuangan biasanya menampilkan dua angka EPS sekaligus:
EPS Dasar memperhitungkan jumlah saham biasa yang beredar saat ini, mencerminkan kemampuan keuntungan perusahaan yang sebenarnya.
EPS Dilusi mengasumsikan semua instrumen yang dapat dikonversi menjadi saham (seperti opsi karyawan, obligasi konversi, saham preferen) dikonversi menjadi saham biasa, sehingga menghasilkan EPS yang lebih rendah. Rumusnya:
EPS Dilusi = (Laba Bersih - Dividen Saham Preferen) / (Jumlah Saham Biasa + Instrumen Konversi yang Dilutif)
Contohnya, Coca-Cola (KO.US) tahun 2022, laba bersihnya $9.542 miliar, jumlah saham beredar 4.328 miliar, dan instrumen konversi dilutif 22 juta saham. Maka EPS dilusi adalah $9542 / ( 4328 + 22) = $2.19.
Mengapa perlu memperhatikan EPS Dilusi? Karena opsi dan obligasi konversi akan dikonversi menjadi saham biasa suatu saat, sehingga kepemilikan investor akan terdilusi dan EPS per saham akan menurun. Memahami EPS dilusi membantu memperkirakan potensi penurunan nilai per saham di masa depan.
Perbandingan
EPS Dasar
EPS Dilusi
Lingkungan Perhitungan
Situasi aktual
Memperhitungkan risiko dilusi
Cakupan Saham
Saham biasa saat ini
Saham biasa + instrumen konversi
Nilai Investasi
Relatif rendah
Lebih akurat sebagai acuan
Cara Menggunakan EPS Secara Tepat dalam Pemilihan Saham
Bangun Kerangka Perbandingan Dinamis
Jangan hanya melihat angka EPS statis, tetapi buatlah kerangka perbandingan tren waktu. Kumpulkan data EPS 5-10 tahun terakhir dari perusahaan yang sama, lalu analisis tren pertumbuhannya. Selain itu, bandingkan dengan 3-5 pesaing utama di industri yang sama.
Gabungkan dengan Indikator Keuangan Lain
EPS tidak boleh menjadi satu-satunya dasar dalam memilih saham. Investor juga harus memperhatikan:
ROE (Return on Equity): Mengukur efisiensi penggunaan modal pemegang saham
Arus Kas Bebas: Kas yang benar-benar dihasilkan perusahaan, lebih nyata dari laba
Level Utang: Menilai risiko keuangan perusahaan
Margin Laba Kotor dan Bersih: Menggambarkan kekuatan penetapan harga dan pengendalian biaya
Analisis Mendalam Sumber Pertumbuhan EPS
Kenaikan EPS tidak selalu positif. Anda harus memastikan bahwa pertumbuhan tersebut berasal dari:
Pertumbuhan bisnis dan peningkatan pendapatan?
Perbaikan pengendalian biaya dan peningkatan margin keuntungan?
Atau hanya karena buyback saham yang meningkatkan EPS secara akuntansi?
Hanya dua yang pertama yang layak dipercaya sebagai indikator pertumbuhan EPS yang sehat.
Hubungan Antara EPS dan Harga Saham yang Rumit
Secara umum, pertumbuhan EPS akan mendorong kenaikan harga saham, tetapi hubungan ini tidak mutlak.
Kondisi Normal: Pertumbuhan EPS yang kuat → Kepercayaan investor meningkat → Harga saham naik → Lebih banyak orang membeli → Harga saham semakin naik. Ini membentuk siklus positif.
Namun pasar seringkali mengejutkan:
Jika pasar memperkirakan EPS $2, tetapi perusahaan hanya mengumumkan $1.8, meskipun naik 80% dari tahun lalu $1, harga saham bisa saja turun tajam karena tidak memenuhi ekspektasi.
Sebaliknya, jika pasar memperkirakan EPS $1.5, tetapi perusahaan mengumumkan $2, meskipun turun dari $2.2 tahun lalu, harga saham bisa melonjak karena hasilnya melebihi ekspektasi.
Inilah mengapa banyak investor profesional lebih memperhatikan “faktor kejutan” (Surprise Factor) daripada angka EPS absolut.
Hubungan EPS dan Dividen: Sinergi dalam Pengembalian
Dividen per saham (DPS) dan EPS mencerminkan dua cara perusahaan memberi pengembalian kepada pemegang saham:
EPS adalah potensi pengembalian: laba yang diperoleh perusahaan
DPS adalah realisasi pengembalian: laba yang didistribusikan ke pemegang saham
Tidak semua laba dibagikan sebagai dividen. Banyak perusahaan pertumbuhan akan menginvestasikan sebagian besar laba untuk R&D dan ekspansi, bukan membayar dividen. Sebaliknya, perusahaan matang mungkin membagikan 50-70% laba sebagai dividen.
Dividen payout ratio = DPS / EPS
Payout ratio yang terlalu tinggi (misalnya di atas 80%) bisa menandakan kurangnya peluang pertumbuhan; sedangkan payout ratio rendah (misalnya di bawah 10%) bisa menunjukkan perusahaan optimis terhadap masa depan dan memilih menahan laba untuk investasi.
Perusahaan dengan yield dividen tinggi biasanya lebih tahan banting saat pasar bearish karena dividen memberikan pendapatan minimum, tetapi ini juga bisa menjadi sinyal bahwa harga sahamnya tidak banyak bergerak dalam jangka panjang.
Cara Menemukan Data EPS Terbaru
Sumber Resmi: Laporan Keuangan Perusahaan
Cara paling akurat adalah langsung dari laporan keuangan perusahaan. Untuk perusahaan yang terdaftar di AS, bisa mengakses sistem EDGAR dari SEC (sec.gov):
Masuk ke “SEARCH EDGAR”
Masukkan nama perusahaan atau kode saham
Cari laporan 10-Q (kuartalan) atau 10-K (tahunan)
Di laporan laba rugi konsolidasi, cari baris “Earnings Per Share”
Sumber Sekunder: Situs Keuangan
SeekingAlpha, Yahoo Finance, dan situs lain menyediakan data EPS gratis, tetapi perlu diperhatikan:
Data bisa terlambat
Pastikan membedakan EPS dasar dan EPS dilusi
Prediksi EPS di situs ini bisa berbeda jauh dari angka aktual
Saran: Gunakan situs keuangan untuk melihat tren EPS secara cepat, lalu verifikasi angka detailnya dari laporan resmi.
Peringatan Akhir: Jebakan dan Risiko dalam Menggunakan EPS
Tidak peduli seberapa bagus angka EPS-nya, tidak ada jaminan performa saham di masa depan.
Perusahaan dengan EPS meningkat terus-menerus tetap bisa jatuh karena kompetisi, industri menurun, atau kesalahan manajemen
Perusahaan dengan EPS rendah sekalipun bisa memiliki potensi besar karena sedang melakukan transformasi strategis
Berapa EPS yang dianggap baik, akhirnya harus dilihat dari konteks industri, siklus hidup perusahaan, dan kondisi makroekonomi
Pendekatan paling aman adalah: Gunakan EPS sebagai alat awal screening, tetapi sebelum membuat keputusan akhir, lakukan analisis fundamental lengkap dan penilaian risiko. Keputusan investasi tidak pernah boleh bergantung pada satu indikator saja, melainkan harus mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh dan berhati-hati untuk menghindari kerugian.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Panduan mendalam tentang laba per saham (EPS) yang wajib diketahui dalam pemilihan saham investasi, berapa EPS yang dianggap baik adalah kunci
Mengapa Investor Selalu Memperhatikan EPS?
Dalam menilai nilai investasi sebuah perusahaan yang terdaftar, laba per saham sering menjadi indikator utama referensi. Tetapi banyak investor pemula tidak benar-benar memahami arti di balik angka ini, hanya melihat EPS meningkat lalu terburu-buru membeli saham dengan harapan harga akan naik, padahal hasilnya seringkali bertentangan dengan harapan. Artikel ini akan membahas secara mendalam makna sebenarnya dari laba per saham, serta mengajarkan cara menggunakan EPS secara tepat dalam pengambilan keputusan pemilihan saham.
Definisi Inti dari Laba Per Saham
Laba Per Saham (Earnings Per Share, disingkat EPS) pada dasarnya adalah sebuah konsep sederhana: membagi laba yang diperoleh perusahaan secara rata-rata ke setiap saham yang beredar. Secara spesifik, EPS mencerminkan berapa banyak keuntungan yang bisa diperoleh investor dari setiap satu saham yang dimiliki.
Dinyatakan dengan rumus:
EPS = (Laba Bersih - Dividen Saham Preferen) / Jumlah Saham Biasa yang Beredar
Indikator ini penting karena secara langsung menunjukkan efisiensi keuntungan perusahaan. Semakin tinggi EPS, semakin banyak keuntungan yang diciptakan perusahaan untuk setiap pemegang saham. Inilah sebabnya mengapa investor cenderung membeli perusahaan dengan EPS yang terus meningkat—ini menandakan kemampuan keuntungan perusahaan yang sedang membaik.
Praktik Perhitungan EPS: Contoh Bank AS
Konsepnya mudah dipahami secara teori, tetapi penerapannya yang nyata adalah tantangan. Mari kita lihat bagaimana EPS dihitung dari laporan keuangan Bank AS (BAC.US) tahun 2022.
Data dari laporan keuangan:
Menggunakan rumus: EPS = ($27.528 - $1.513) / 8.1137 = $3.21
Sebenarnya, laporan keuangan perusahaan sudah menghitung EPS untuk investor, Anda hanya perlu tahu di mana posisi data ini dalam laporan keuangan. Biasanya, di bagian laporan laba rugi konsolidasi, Anda akan langsung melihat baris “Earnings Per Share”.
Berapa EPS yang Baik? Kunci Utamanya adalah Tren, Bukan Nilai Absolut
Ini adalah pertanyaan paling umum dari investor, dan jawabannya mungkin akan mengecewakan: Tidak ada standar EPS “baik” yang baku.
Melihat angka EPS satu kuartal atau satu tahun saja tidak ada artinya. EPS perusahaan yang $2 atau $5 tergantung pada banyak faktor seperti industri, skala, model keuntungan, dan lain-lain. Yang lebih penting adalah:
1. Mengamati Tren Jangka Panjang
Jika EPS sebuah perusahaan meningkat secara konsisten dari tahun ke tahun, ini menunjukkan kemampuan keuntungan yang stabil membaik, dan perusahaan seperti ini layak diperhatikan. Sebaliknya, jika EPS terus menurun atau berfluktuasi, investor harus berhati-hati.
Contohnya, Apple (AAPL.US) selama 20 tahun terakhir, seiring penguatan posisi pasar dan ekspansi lini produk, EPS-nya naik dari kurang dari $1 menjadi lebih dari $6. Pertumbuhan yang berkelanjutan ini menjadi salah satu alasan investor optimis terhadap perusahaan tersebut.
2. Membandingkan Secara Horizontal dengan Industri Sejenis
Membandingkan EPS sebuah perusahaan dengan pesaing di industri yang sama dapat membantu menilai nilai investasi relatif. Misalnya, EPS perusahaan A adalah $2, sementara rata-rata industri adalah $1.5, maka perusahaan A relatif lebih menguntungkan.
Namun, ada jebakan yang harus dihindari: jumlah saham berbeda-beda antar perusahaan, jadi membandingkan EPS secara langsung bisa menyesatkan. Cara yang lebih andal adalah menggunakan Price to Earnings Ratio (P/E Ratio).
P/E Ratio = Harga saham / EPS
Contohnya, perusahaan A dengan harga saham $30 dan EPS $1 memiliki P/E 30; perusahaan B dengan harga saham $20 dan EPS $2 memiliki P/E 10. Tampak bahwa B lebih murah, tetapi ini juga bisa berarti pasar tidak terlalu optimis terhadap pertumbuhan B dibanding A.
Kebenaran tentang EPS dalam Pemilihan Saham: Tidak 100% Akurat
Banyak investor menganggap EPS sebagai “cawan suci” dalam memilih saham, tetapi kenyataannya jauh lebih kompleks.
Sebagai contoh, bandingkan tiga perusahaan raksasa di industri semikonduktor: NVIDIA (NVDA.US), Qualcomm (QCOM.US), dan AMD (AMD.US) selama 2018-2023:
Setelah 2020, EPS Qualcomm jauh lebih tinggi daripada dua lainnya. Jika hanya berdasarkan EPS, Qualcomm seharusnya menjadi pilihan terbaik. Tetapi kenyataannya, pengembalian investasi berbeda jauh: NVIDIA dalam 3 tahun mencapai return 251%, sedangkan Qualcomm hanya 69%.
Ini menunjukkan satu kebenaran penting: EPS hanyalah salah satu dimensi dalam menilai perusahaan, dan tidak mampu merepresentasikan nilai investasi saham secara lengkap.
Waspadai “Jebakan” di Balik EPS
Misteri Buyback Saham
Banyak perusahaan melakukan buyback saham untuk meningkatkan EPS. Dengan membeli kembali saham, jumlah saham yang beredar berkurang, sehingga EPS secara otomatis naik jika laba tidak berubah.
Contohnya, sebuah perusahaan dengan laba bersih $1 miliar dan jumlah saham beredar 1 miliar saham, EPS-nya adalah $1. Jika perusahaan melakukan buyback 200 juta saham, jumlah saham beredar menjadi 800 juta, dan dengan laba yang sama, EPS menjadi $1.25. Tampaknya profitabilitas meningkat, padahal kondisi operasional perusahaan tidak berubah.
Distorsi dari Item Khusus
Perusahaan yang menjual aset, mendapatkan insentif pajak, atau melakukan restrukturisasi aset akan mendapatkan pendapatan satu kali yang dihitung sebagai laba bersih, sehingga secara artifisial menaikkan EPS. Contohnya, perusahaan restoran menjual properti, perusahaan teknologi menjual paten, dan lain-lain.
Pendapatan satu kali ini tidak berkelanjutan, sehingga investor harus mampu mengidentifikasi dan mengabaikan faktor ini agar bisa melihat kemampuan operasional perusahaan yang sesungguhnya.
EPS Dasar vs EPS Dilusi: Perbedaan yang Perlu Diketahui
Laporan keuangan biasanya menampilkan dua angka EPS sekaligus:
EPS Dasar memperhitungkan jumlah saham biasa yang beredar saat ini, mencerminkan kemampuan keuntungan perusahaan yang sebenarnya.
EPS Dilusi mengasumsikan semua instrumen yang dapat dikonversi menjadi saham (seperti opsi karyawan, obligasi konversi, saham preferen) dikonversi menjadi saham biasa, sehingga menghasilkan EPS yang lebih rendah. Rumusnya:
EPS Dilusi = (Laba Bersih - Dividen Saham Preferen) / (Jumlah Saham Biasa + Instrumen Konversi yang Dilutif)
Contohnya, Coca-Cola (KO.US) tahun 2022, laba bersihnya $9.542 miliar, jumlah saham beredar 4.328 miliar, dan instrumen konversi dilutif 22 juta saham. Maka EPS dilusi adalah $9542 / ( 4328 + 22) = $2.19.
Mengapa perlu memperhatikan EPS Dilusi? Karena opsi dan obligasi konversi akan dikonversi menjadi saham biasa suatu saat, sehingga kepemilikan investor akan terdilusi dan EPS per saham akan menurun. Memahami EPS dilusi membantu memperkirakan potensi penurunan nilai per saham di masa depan.
Cara Menggunakan EPS Secara Tepat dalam Pemilihan Saham
Bangun Kerangka Perbandingan Dinamis
Jangan hanya melihat angka EPS statis, tetapi buatlah kerangka perbandingan tren waktu. Kumpulkan data EPS 5-10 tahun terakhir dari perusahaan yang sama, lalu analisis tren pertumbuhannya. Selain itu, bandingkan dengan 3-5 pesaing utama di industri yang sama.
Gabungkan dengan Indikator Keuangan Lain
EPS tidak boleh menjadi satu-satunya dasar dalam memilih saham. Investor juga harus memperhatikan:
Analisis Mendalam Sumber Pertumbuhan EPS
Kenaikan EPS tidak selalu positif. Anda harus memastikan bahwa pertumbuhan tersebut berasal dari:
Hanya dua yang pertama yang layak dipercaya sebagai indikator pertumbuhan EPS yang sehat.
Hubungan Antara EPS dan Harga Saham yang Rumit
Secara umum, pertumbuhan EPS akan mendorong kenaikan harga saham, tetapi hubungan ini tidak mutlak.
Kondisi Normal: Pertumbuhan EPS yang kuat → Kepercayaan investor meningkat → Harga saham naik → Lebih banyak orang membeli → Harga saham semakin naik. Ini membentuk siklus positif.
Namun pasar seringkali mengejutkan:
Jika pasar memperkirakan EPS $2, tetapi perusahaan hanya mengumumkan $1.8, meskipun naik 80% dari tahun lalu $1, harga saham bisa saja turun tajam karena tidak memenuhi ekspektasi.
Sebaliknya, jika pasar memperkirakan EPS $1.5, tetapi perusahaan mengumumkan $2, meskipun turun dari $2.2 tahun lalu, harga saham bisa melonjak karena hasilnya melebihi ekspektasi.
Inilah mengapa banyak investor profesional lebih memperhatikan “faktor kejutan” (Surprise Factor) daripada angka EPS absolut.
Hubungan EPS dan Dividen: Sinergi dalam Pengembalian
Dividen per saham (DPS) dan EPS mencerminkan dua cara perusahaan memberi pengembalian kepada pemegang saham:
Tidak semua laba dibagikan sebagai dividen. Banyak perusahaan pertumbuhan akan menginvestasikan sebagian besar laba untuk R&D dan ekspansi, bukan membayar dividen. Sebaliknya, perusahaan matang mungkin membagikan 50-70% laba sebagai dividen.
Dividen payout ratio = DPS / EPS
Payout ratio yang terlalu tinggi (misalnya di atas 80%) bisa menandakan kurangnya peluang pertumbuhan; sedangkan payout ratio rendah (misalnya di bawah 10%) bisa menunjukkan perusahaan optimis terhadap masa depan dan memilih menahan laba untuk investasi.
Perusahaan dengan yield dividen tinggi biasanya lebih tahan banting saat pasar bearish karena dividen memberikan pendapatan minimum, tetapi ini juga bisa menjadi sinyal bahwa harga sahamnya tidak banyak bergerak dalam jangka panjang.
Cara Menemukan Data EPS Terbaru
Sumber Resmi: Laporan Keuangan Perusahaan
Cara paling akurat adalah langsung dari laporan keuangan perusahaan. Untuk perusahaan yang terdaftar di AS, bisa mengakses sistem EDGAR dari SEC (sec.gov):
Sumber Sekunder: Situs Keuangan
SeekingAlpha, Yahoo Finance, dan situs lain menyediakan data EPS gratis, tetapi perlu diperhatikan:
Saran: Gunakan situs keuangan untuk melihat tren EPS secara cepat, lalu verifikasi angka detailnya dari laporan resmi.
Peringatan Akhir: Jebakan dan Risiko dalam Menggunakan EPS
Tidak peduli seberapa bagus angka EPS-nya, tidak ada jaminan performa saham di masa depan.
Pendekatan paling aman adalah: Gunakan EPS sebagai alat awal screening, tetapi sebelum membuat keputusan akhir, lakukan analisis fundamental lengkap dan penilaian risiko. Keputusan investasi tidak pernah boleh bergantung pada satu indikator saja, melainkan harus mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh dan berhati-hati untuk menghindari kerugian.