Tiga Faktor Pendorong Harga Minyak Mentah—Selat Hormuz, Ultimatum, dan Gelombang Perebutan Minyak Global



7 April 2026, konflik AS-Iran memasuki hari ke-40, dan pasar minyak mentah sedang berada dalam momen ketegangan yang bersejarah. Saat ini, WTI minyak mentah diperdagangkan pada 115,41 dolar AS per barel, sedangkan Brent minyak mentah pada 111,35 dolar AS per barel, atau hampir dua kali lipat dibandingkan sebelum konflik meletus.

Faktor Pendorong satu: Penutupan Selat Hormuz. Sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran, Selat Hormuz yang semestinya menjadi jalur pelayaran internasional pada dasarnya telah berada dalam kondisi nyaris ditutup. Jalur air ini biasanya mengangkut sekitar 20% dari total arus minyak global; terganggunya jalur tersebut langsung menyebabkan kekurangan pasokan.

Faktor Pendorong dua: “Ultimatum” Trump. Trump menetapkan 7 April pukul 20.00 waktu AS Timur sebagai tenggat waktu “tidak dapat diubah”, dengan ancaman bahwa jika Iran tidak membuka kembali selat tersebut, ia akan menghancurkan semua jembatan dan pembangkit listriknya. Pihak Iran justru menolak kemungkinan gencatan senjata sementara, mengajukan 10 tuntutan yang mencakup pencabutan sanksi dan rekonstruksi pascaperang, sambil menekankan bahwa perang harus “berakhir secara permanen”. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan memperingatkan Trump agar jangan mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Iran pada tahap saat ini. Konfrontasi berbagai sikap membuat situasi semakin rumit.

Faktor Pendorong tiga: “Perang Perebutan Minyak” global. Karena gangguan pasokan dari Timur Tengah, para pengolah minyak di Asia dan Eropa berebut mencari sumber alternatif. Premi spot minyak mentah WTI AS melonjak hingga level tertinggi sepanjang masa. Minyak mentah sintetis Kanada memiliki premi 19,90 dolar AS dibanding WTI, sedangkan sebulan sebelumnya preminya hanya sekitar 1 dolar AS. Saudi Aramco menaikkan harga resmi Asia untuk bulan Mei hingga premi rekor sebesar 19,50 dolar AS per barel. Bahkan, Korea Selatan mengirim 5 kapal tanker untuk mengangkut minyak dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah, Arab Saudi, sehingga membuka jalur alternatif yang melewati Selat Hormuz.

Fokus perhatian pasar: Tenggat waktu malam ini pukul 8 sangat menentukan. Jika perundingan gagal, harga minyak dapat langsung menembus kisaran 115 hingga 120 dolar AS. Jika muncul sinyal mereda, harga minyak bisa cepat turun kembali. Para investor perlu benar-benar mengawasi titik waktu ini.

#Gate广场四月发帖挑战
Lihat Asli
post-image
post-image
post-image
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • 1
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Ryakpandavip
· 3jam yang lalu
Langsung saja, 👊
Lihat AsliBalas0
  • Sematkan