Bank tidak menentang crypto.


Sebenarnya, sebaliknya…
Mereka diam-diam mengintegrasikan crypto ke dalam sistem mereka.
Berkat stablecoin, blockchain, dan uang yang ditokenisasi, sistem keuangan sedang dibangun kembali.
Dan ini menghadirkan peluang besar sekaligus risiko signifikan bagi crypto.
Mari kita jelaskan secara sederhana.

Sistem perbankan saat ini sangat tua.
Misalnya, saat mengirim uang ke negara lain:
• bisa memakan waktu berhari-hari
• melibatkan beberapa bank berbeda
• Anda membayar biaya yang tinggi
Tapi di blockchain, uang bisa berpindah dalam hitungan detik.
Itulah yang diinginkan bank.

Saat ini di dunia:
• ada lebih dari $300 miliar stablecoin
• sekitar $115 miliar transfer stablecoin dilakukan setiap hari
• volume transaksi tahunan total telah mencapai $46 triliun
Dengan kata lain, stablecoin tidak lagi sekadar alat crypto kecil.
Mereka mulai menjadi sistem pembayaran global.

Itulah mengapa bank fokus pada tiga hal:
1️⃣ Memindahkan uang bank ke blockchain
2️⃣ Membangun sistem pembayaran dengan stablecoin
3️⃣ Menawarkan layanan crypto

Topik pertama: versi blockchain dari uang bank.
Ini disebut “deposit yang ditokenisasi.”
Pikirkan secara sederhana:
Anda memiliki $1.000 di bank.
Bank dapat mewakili uang ini sebagai 1.000 token digital di blockchain.
Dengan cara ini:
• uang dapat dipindahkan dalam hitungan detik
• transaksi dapat dilakukan 24/7
• beberapa pembayaran bisa otomatis
Pada tahun 2030, bank diperkirakan akan mengeluarkan sekitar $1,9 triliun token semacam ini.

Topik kedua: stablecoin.
Stablecoin adalah dolar digital yang bergerak dengan kecepatan internet.
Misalnya, 👇
Bayangkan sebuah perusahaan di AS melakukan pembayaran ke negara lain.
Dalam sistem perbankan tradisional:
• bisa memakan waktu berhari-hari
• biaya tinggi harus dibayar
Dengan stablecoin:
• transaksi bisa diselesaikan dalam hitungan menit
• biaya jauh lebih rendah
Itulah mengapa perusahaan besar seperti PayPal, Visa, dan Stripe masuk ke ruang ini.

Topik ketiga adalah layanan crypto.
Bank ingin menawarkan kepada pelanggan mereka:
• kustodi crypto
• perdagangan
• staking
Karena jika tidak, orang akan tetap pergi ke platform crypto bagaimanapun juga.

Ada perbedaan penting di sini.
“Token deposit” yang diterbitkan bank dengan stablecoin bukanlah hal yang sama.
Stablecoin biasanya diterbitkan oleh perusahaan swasta.
Deposit yang ditokenisasi adalah uang milik bank sendiri dalam bentuk blockchain.
Singkatnya, 👇
Stablecoin = dolar internet
Deposit yang ditokenisasi = rekening bank di blockchain

Ada juga berbagai jenis stablecoin.
Yang paling umum adalah stablecoin berbasis dolar seperti USDT dan USDC.
Selain itu, 🗞:
• model yang dijamin dengan crypto
• model algoritmik
• stablecoin yang menghasilkan bunga
juga tersedia.

Jadi, apakah ini baik atau buruk untuk crypto?
Ini memiliki kedua sisi.
Sisi positif:
Bank mengelola triliunan dolar.
Memindahkan uang ini ke blockchain bisa memperbesar ekosistem crypto.
Selain itu, di masa depan, 👇:
• saham
• obligasi
• dana
semua bisa diperdagangkan di blockchain.
Ini berarti pasar keuangan bisa beroperasi 24/7.

Tapi ada juga risiko.
Bank mungkin lebih memilih untuk membangun sistem yang lebih terkendali daripada blockchain yang sepenuhnya terbuka.
Pemerintah bisa lebih mengendalikan uang digital melalui stablecoin.
Ini bisa bertentangan dengan beberapa ide dasar crypto.

Tapi satu hal yang pasti: 👇
Sistem keuangan sedang berubah.
Pertanyaan sebenarnya bukan lagi:
“Apakah blockchain akan digunakan?”
Pertanyaan sebenarnya adalah: 👇
Siapa yang akan membangun sistem keuangan baru?
Komunitas crypto…
atau bank yang mengintegrasikan blockchain ke dalam sistem mereka?
USDC0,01%
TOKEN2,35%
Lihat Asli
post-image
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan