Seiring pasar kendaraan listrik terus mengalami transformasi struktural, para investor yang mencari saham terbaik untuk dibeli dalam pasar bullish mendatang sebaiknya mengalihkan perhatian mereka ke Rivian (NASDAQ: RIVN) dan BYD (OTC: BYDDY). Meskipun kedua perusahaan ini beroperasi di wilayah geografis dan segmen pasar yang berbeda, keduanya mewakili peluang menarik bagi mereka yang ingin mendapatkan eksposur terhadap pertumbuhan jangka panjang kendaraan listrik selama lima tahun ke depan dan seterusnya.
Memahami Peluang Pasar EV dan Faktor Pendorong Pertumbuhan
Sektor kendaraan listrik menghadapi hambatan jangka pendek, tetapi tesis jangka panjang tetap utuh. Menurut Grand View Research, pasar EV global diperkirakan akan berkembang dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 32,5% dari 2025 hingga 2030, menunjukkan bahwa kendaraan listrik akan terus menggantikan mobil berbahan bakar bensin selama sisa dekade ini. Tren berkelanjutan ini menciptakan landasan yang kokoh bagi perusahaan yang mampu mengeksekusi rencana ekspansi mereka dan mencapai profitabilitas—menjadikan ini saat yang tepat bagi investor kontra untuk mengidentifikasi saham unggulan yang undervalued untuk dibeli di bidang ini.
Tantangan bagi investor adalah membedakan mana produsen EV yang akan berkembang dan mana yang akan kesulitan. Baik Rivian maupun BYD telah memposisikan diri secara berbeda untuk merebut pangsa pasar, masing-masing dengan keunggulan yang patut diperhatikan lebih dekat.
Rivian: Inovasi Premium Amerika dan Diversifikasi Produk
Rivian memasuki pasar dengan misi berani: memproduksi kendaraan pickup listrik premium, SUV, dan van pengiriman khusus yang ditujukan untuk segmen konsumen dan komersial kelas atas. Ketika perusahaan go public pada 2021, manajemen awalnya memproyeksikan mampu meningkatkan produksi hingga 50.000 unit per tahun pada 2022. Realitasnya lebih menantang.
Gangguan rantai pasok membatasi output 2022 menjadi hanya 24.337 unit. Meskipun Rivian lebih dari menggandakan produksi menjadi 57.232 kendaraan pada 2023, tahun berikutnya menghadirkan hambatan baru. Pada 2024, di tengah hambatan makroekonomi termasuk suku bunga tinggi, pengurangan subsidi EV pemerintah, dan peningkatan tekanan kompetitif, Rivian mengirimkan 49.476 kendaraan—di bawah level 2023. Untuk 2025, manajemen memproyeksikan hanya 40.000 hingga 46.000 pengiriman karena perusahaan menghadapi tantangan profitabilitas yang berkelanjutan.
Meskipun ada hambatan produksi jangka pendek, narasi pertumbuhan Rivian tetap menarik. Analis memperkirakan pendapatan akan tumbuh dengan CAGR sebesar 31% dari 2024 hingga 2027 saat perusahaan mempersempit kerugian operasionalnya. Tiga faktor pendorong utama yang dapat menguatkan pandangan optimis ini adalah peluncuran SUV R2 yang lebih terjangkau, dimulainya operasi di fasilitas manufaktur Georgia, dan kemitraan strategis dengan Volkswagen (OTC: VWAP.Y), yang dapat mempercepat pengembangan teknologi dan menurunkan biaya.
Rivian saat ini diperdagangkan dengan valuasi kurang dari tiga kali penjualan mendatang—penilaian yang menarik bagi investor yang bertaruh pada saham ini sebagai peluang pembalikan. SUV R2, khususnya, mengatasi tantangan historis Rivian: mencapai skala di kalangan pembeli pasar menengah, bukan hanya menargetkan konsumen super kaya.
BYD: Dominasi Skala dan Integrasi Vertikal dari Tiongkok
BYD mewakili model bisnis yang sangat berbeda. Awalnya didirikan sebagai produsen baterai, perusahaan ini berkembang menjadi produsen mobil terkemuka di China selama dua dekade melalui diversifikasi strategis dan integrasi vertikal.
Pada 2022, BYD mengambil keputusan penting untuk menghentikan produksi kendaraan bensin murni, dan fokus pada kendaraan hybrid plug-in (PHEV) dan kendaraan listrik baterai (BEV). Strategi ini memungkinkan perusahaan mengembangkan dan mengimplementasikan teknologi baterai lithium iron phosphate (LFP) miliknya sendiri—sebuah keunggulan kompetitif penting yang terbukti lebih murah, lebih aman, dan lebih efisien daya dibandingkan baterai lithium-ion konvensional.
Hasilnya berbicara sendiri. Antara 2020 dan 2024, penjualan kendaraan tahunan BYD melonjak dari 427.302 unit menjadi 4,27 juta unit. Pendapatan meningkat lebih dari lima kali lipat selama periode ini, sementara laba bersih hampir sepuluh kali lipat. Pertumbuhan pesat ini didorong oleh tiga keunggulan kompetitif: integrasi vertikal rantai pasok, konsolidasi lini produksi yang terfragmentasi di bawah arsitektur e-Platform 3.0 yang terpadu, dan ekspansi pasar internasional.
Melihat ke depan, analis memperkirakan pendapatan dan laba bersih BYD akan tumbuh dengan CAGR sebesar 13% dan 16% hingga 2027. Meskipun pertumbuhan mulai melambat seiring perusahaan matang, angka-angka ini tetap kuat untuk perusahaan yang kini bersaing dalam skala besar. Sahamnya saat ini diperdagangkan dengan valuasi 16 kali laba tahun ini—cukup menarik untuk produsen yang menunjukkan profitabilitas dan efisiensi operasional seperti ini.
Membandingkan Kasus Investasi: Profil Risiko dan Imbal Hasil
Dua saham ini mewakili profil risiko-imbalan yang kontras. Rivian adalah saham dengan beta lebih tinggi: perusahaan yang masih merugi, beroperasi dengan kapasitas terbatas, tetapi berpotensi membuka nilai besar jika SUV R2-nya diterima pasar dan jejak manufakturnya berkembang secara efisien. Potensi upside-nya bisa besar bagi modal yang sabar, tetapi risiko eksekusi tetap signifikan.
Sebaliknya, BYD adalah cerita yang lebih matang. Perusahaan ini sudah membuktikan kemampuannya untuk mengeksekusi secara skala besar, mencapai profitabilitas, dan bersaing secara global. Profil risiko lebih rendah, dan visibilitas bisnis lebih tinggi—namun ini datang dengan ekspektasi pertumbuhan jangka panjang yang lebih moderat dibanding Rivian.
Mengapa Kedua Saham Layak Dipertimbangkan untuk Portofolio Anda
Bagi investor yang membangun eksposur seimbang terhadap peluang EV global, kedua saham unggulan ini menawarkan keunggulan berbeda. Apakah Anda tertarik pada narasi turnaround Rivian dan inovasi teknologi atau pada keberhasilan eksekusi dan ekonomi skala BYD, tahun-tahun mendatang menjanjikan peluang menarik. Pasar bullish secara umum dalam kendaraan listrik masih berada di tahap awal, dan kedua saham ini mewakili cara berbeda—tetapi sama-sama menarik—untuk berpartisipasi dalam cerita pertumbuhan berkelanjutan tersebut.
Kuncinya adalah melakukan due diligence sendiri, memahami toleransi risiko pribadi, dan memastikan bahwa horizon investasi Anda sesuai dengan waktu yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan ini untuk mengeksekusi strategi mereka. Kedua perusahaan menghadapi tantangan nyata ke depan, tetapi keduanya juga memiliki sumber daya, teknologi, dan posisi pasar yang memungkinkan mereka muncul sebagai pemenang dalam industri yang sedang mengalami perubahan fundamental.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
2 Saham Teratas untuk Dibeli saat Pasar EV Berubah: Rivian dan BYD
Seiring pasar kendaraan listrik terus mengalami transformasi struktural, para investor yang mencari saham terbaik untuk dibeli dalam pasar bullish mendatang sebaiknya mengalihkan perhatian mereka ke Rivian (NASDAQ: RIVN) dan BYD (OTC: BYDDY). Meskipun kedua perusahaan ini beroperasi di wilayah geografis dan segmen pasar yang berbeda, keduanya mewakili peluang menarik bagi mereka yang ingin mendapatkan eksposur terhadap pertumbuhan jangka panjang kendaraan listrik selama lima tahun ke depan dan seterusnya.
Memahami Peluang Pasar EV dan Faktor Pendorong Pertumbuhan
Sektor kendaraan listrik menghadapi hambatan jangka pendek, tetapi tesis jangka panjang tetap utuh. Menurut Grand View Research, pasar EV global diperkirakan akan berkembang dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 32,5% dari 2025 hingga 2030, menunjukkan bahwa kendaraan listrik akan terus menggantikan mobil berbahan bakar bensin selama sisa dekade ini. Tren berkelanjutan ini menciptakan landasan yang kokoh bagi perusahaan yang mampu mengeksekusi rencana ekspansi mereka dan mencapai profitabilitas—menjadikan ini saat yang tepat bagi investor kontra untuk mengidentifikasi saham unggulan yang undervalued untuk dibeli di bidang ini.
Tantangan bagi investor adalah membedakan mana produsen EV yang akan berkembang dan mana yang akan kesulitan. Baik Rivian maupun BYD telah memposisikan diri secara berbeda untuk merebut pangsa pasar, masing-masing dengan keunggulan yang patut diperhatikan lebih dekat.
Rivian: Inovasi Premium Amerika dan Diversifikasi Produk
Rivian memasuki pasar dengan misi berani: memproduksi kendaraan pickup listrik premium, SUV, dan van pengiriman khusus yang ditujukan untuk segmen konsumen dan komersial kelas atas. Ketika perusahaan go public pada 2021, manajemen awalnya memproyeksikan mampu meningkatkan produksi hingga 50.000 unit per tahun pada 2022. Realitasnya lebih menantang.
Gangguan rantai pasok membatasi output 2022 menjadi hanya 24.337 unit. Meskipun Rivian lebih dari menggandakan produksi menjadi 57.232 kendaraan pada 2023, tahun berikutnya menghadirkan hambatan baru. Pada 2024, di tengah hambatan makroekonomi termasuk suku bunga tinggi, pengurangan subsidi EV pemerintah, dan peningkatan tekanan kompetitif, Rivian mengirimkan 49.476 kendaraan—di bawah level 2023. Untuk 2025, manajemen memproyeksikan hanya 40.000 hingga 46.000 pengiriman karena perusahaan menghadapi tantangan profitabilitas yang berkelanjutan.
Meskipun ada hambatan produksi jangka pendek, narasi pertumbuhan Rivian tetap menarik. Analis memperkirakan pendapatan akan tumbuh dengan CAGR sebesar 31% dari 2024 hingga 2027 saat perusahaan mempersempit kerugian operasionalnya. Tiga faktor pendorong utama yang dapat menguatkan pandangan optimis ini adalah peluncuran SUV R2 yang lebih terjangkau, dimulainya operasi di fasilitas manufaktur Georgia, dan kemitraan strategis dengan Volkswagen (OTC: VWAP.Y), yang dapat mempercepat pengembangan teknologi dan menurunkan biaya.
Rivian saat ini diperdagangkan dengan valuasi kurang dari tiga kali penjualan mendatang—penilaian yang menarik bagi investor yang bertaruh pada saham ini sebagai peluang pembalikan. SUV R2, khususnya, mengatasi tantangan historis Rivian: mencapai skala di kalangan pembeli pasar menengah, bukan hanya menargetkan konsumen super kaya.
BYD: Dominasi Skala dan Integrasi Vertikal dari Tiongkok
BYD mewakili model bisnis yang sangat berbeda. Awalnya didirikan sebagai produsen baterai, perusahaan ini berkembang menjadi produsen mobil terkemuka di China selama dua dekade melalui diversifikasi strategis dan integrasi vertikal.
Pada 2022, BYD mengambil keputusan penting untuk menghentikan produksi kendaraan bensin murni, dan fokus pada kendaraan hybrid plug-in (PHEV) dan kendaraan listrik baterai (BEV). Strategi ini memungkinkan perusahaan mengembangkan dan mengimplementasikan teknologi baterai lithium iron phosphate (LFP) miliknya sendiri—sebuah keunggulan kompetitif penting yang terbukti lebih murah, lebih aman, dan lebih efisien daya dibandingkan baterai lithium-ion konvensional.
Hasilnya berbicara sendiri. Antara 2020 dan 2024, penjualan kendaraan tahunan BYD melonjak dari 427.302 unit menjadi 4,27 juta unit. Pendapatan meningkat lebih dari lima kali lipat selama periode ini, sementara laba bersih hampir sepuluh kali lipat. Pertumbuhan pesat ini didorong oleh tiga keunggulan kompetitif: integrasi vertikal rantai pasok, konsolidasi lini produksi yang terfragmentasi di bawah arsitektur e-Platform 3.0 yang terpadu, dan ekspansi pasar internasional.
Melihat ke depan, analis memperkirakan pendapatan dan laba bersih BYD akan tumbuh dengan CAGR sebesar 13% dan 16% hingga 2027. Meskipun pertumbuhan mulai melambat seiring perusahaan matang, angka-angka ini tetap kuat untuk perusahaan yang kini bersaing dalam skala besar. Sahamnya saat ini diperdagangkan dengan valuasi 16 kali laba tahun ini—cukup menarik untuk produsen yang menunjukkan profitabilitas dan efisiensi operasional seperti ini.
Membandingkan Kasus Investasi: Profil Risiko dan Imbal Hasil
Dua saham ini mewakili profil risiko-imbalan yang kontras. Rivian adalah saham dengan beta lebih tinggi: perusahaan yang masih merugi, beroperasi dengan kapasitas terbatas, tetapi berpotensi membuka nilai besar jika SUV R2-nya diterima pasar dan jejak manufakturnya berkembang secara efisien. Potensi upside-nya bisa besar bagi modal yang sabar, tetapi risiko eksekusi tetap signifikan.
Sebaliknya, BYD adalah cerita yang lebih matang. Perusahaan ini sudah membuktikan kemampuannya untuk mengeksekusi secara skala besar, mencapai profitabilitas, dan bersaing secara global. Profil risiko lebih rendah, dan visibilitas bisnis lebih tinggi—namun ini datang dengan ekspektasi pertumbuhan jangka panjang yang lebih moderat dibanding Rivian.
Mengapa Kedua Saham Layak Dipertimbangkan untuk Portofolio Anda
Bagi investor yang membangun eksposur seimbang terhadap peluang EV global, kedua saham unggulan ini menawarkan keunggulan berbeda. Apakah Anda tertarik pada narasi turnaround Rivian dan inovasi teknologi atau pada keberhasilan eksekusi dan ekonomi skala BYD, tahun-tahun mendatang menjanjikan peluang menarik. Pasar bullish secara umum dalam kendaraan listrik masih berada di tahap awal, dan kedua saham ini mewakili cara berbeda—tetapi sama-sama menarik—untuk berpartisipasi dalam cerita pertumbuhan berkelanjutan tersebut.
Kuncinya adalah melakukan due diligence sendiri, memahami toleransi risiko pribadi, dan memastikan bahwa horizon investasi Anda sesuai dengan waktu yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan ini untuk mengeksekusi strategi mereka. Kedua perusahaan menghadapi tantangan nyata ke depan, tetapi keduanya juga memiliki sumber daya, teknologi, dan posisi pasar yang memungkinkan mereka muncul sebagai pemenang dalam industri yang sedang mengalami perubahan fundamental.