Penurunan terbaru di pasar cryptocurrency telah memicu perdebatan tentang narasi "Emas Digital" Bitcoin. Sementara emas baru-baru ini melonjak ke rekor tertinggi di tengah ketidakpastian global, Bitcoin kesulitan mempertahankan momentum-nya, turun dari puncak mendekati $98.000 ke kisaran $88.000 pada akhir Januari 2026.
Menurut analisis industri dan data pasar terbaru, berikut adalah alasan mengapa Bitcoin saat ini kesulitan berfungsi sebagai aset safe-haven: 1. Kejutan Greenland dan Volatilitas Makro Katalis utama untuk penurunan minggu ini adalah peningkatan mendadak dalam ketegangan perdagangan. Presiden AS Donald Trump yang memperbarui upayanya untuk mengakuisisi Greenland mengumumkan tarif 10% (yang berpotensi meningkat menjadi 25%) pada delapan sekutu Eropa. Dampak: Ini memicu "triple kill" di pasar AS—saham, obligasi, dan dolar semuanya jatuh secara bersamaan. Perbedaan: Dalam lingkungan stres tinggi ini, investor beralih ke safe haven "sejati" seperti emas dan perak. Bitcoin, yang semakin terkait dengan likuiditas institusional, dijual bersamaan dengan aset berisiko tinggi lainnya seperti Nasdaq. 2. Aset Risiko Beta Tinggi vs. Safe Haven Para ahli dari Institut Penelitian Xinhuo dan OK menunjukkan bahwa Bitcoin saat ini berperilaku lebih seperti aset risiko beta tinggi (aset yang lebih volatil daripada pasar) daripada sebagai lindung nilai murni. Pengaruh Institusional: Karena sebagian besar pembelian baru berasal dari ETF institusional dan strategi arbitrase leverage, Bitcoin sangat sensitif terhadap biaya pembiayaan dolar. Keterbatasan Likuiditas: Ketika likuiditas global mengencang akibat gesekan geopolitik atau keragu-raguan bank sentral, Bitcoin cenderung mengalami "de-leveraging" sementara emas mendapatkan manfaat dari "aliran pasif."
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Penurunan terbaru di pasar cryptocurrency telah memicu perdebatan tentang narasi "Emas Digital" Bitcoin. Sementara emas baru-baru ini melonjak ke rekor tertinggi di tengah ketidakpastian global, Bitcoin kesulitan mempertahankan momentum-nya, turun dari puncak mendekati $98.000 ke kisaran $88.000 pada akhir Januari 2026.
Menurut analisis industri dan data pasar terbaru, berikut adalah alasan mengapa Bitcoin saat ini kesulitan berfungsi sebagai aset safe-haven:
1. Kejutan Greenland dan Volatilitas Makro
Katalis utama untuk penurunan minggu ini adalah peningkatan mendadak dalam ketegangan perdagangan. Presiden AS Donald Trump yang memperbarui upayanya untuk mengakuisisi Greenland mengumumkan tarif 10% (yang berpotensi meningkat menjadi 25%) pada delapan sekutu Eropa.
Dampak: Ini memicu "triple kill" di pasar AS—saham, obligasi, dan dolar semuanya jatuh secara bersamaan.
Perbedaan: Dalam lingkungan stres tinggi ini, investor beralih ke safe haven "sejati" seperti emas dan perak. Bitcoin, yang semakin terkait dengan likuiditas institusional, dijual bersamaan dengan aset berisiko tinggi lainnya seperti Nasdaq.
2. Aset Risiko Beta Tinggi vs. Safe Haven
Para ahli dari Institut Penelitian Xinhuo dan OK menunjukkan bahwa Bitcoin saat ini berperilaku lebih seperti aset risiko beta tinggi (aset yang lebih volatil daripada pasar) daripada sebagai lindung nilai murni.
Pengaruh Institusional: Karena sebagian besar pembelian baru berasal dari ETF institusional dan strategi arbitrase leverage, Bitcoin sangat sensitif terhadap biaya pembiayaan dolar.
Keterbatasan Likuiditas: Ketika likuiditas global mengencang akibat gesekan geopolitik atau keragu-raguan bank sentral, Bitcoin cenderung mengalami "de-leveraging" sementara emas mendapatkan manfaat dari "aliran pasif."