Dalam pasar keuangan yang bergejolak saat ini, obligasi semakin mendapatkan perhatian di antara para investor yang menginginkan stabilitas sekaligus imbal hasil. Tingkat pengembalian deposito yang tidak memuaskan dan volatilitas saham yang tinggi membuat banyak orang mencari alternatif yang tepat. Jawabannya adalah obligasi. Mari kita pelajari secara rinci bagaimana pasar obligasi berubah pada tahun 2025 dan obligasi apa yang harus dipilih oleh pemula.
Apa sebenarnya obligasi sehingga perhatian terhadapnya meningkat?
Banyak orang bertanya, “Obligasi itu apa dan apa bedanya dengan deposito?” Singkatnya, obligasi adalah dokumen yang diterbitkan oleh pemerintah, perusahaan, atau lembaga publik saat mereka membutuhkan dana, dan berisi janji untuk meminjamkan uang kepada investor. Sebagai imbalannya, investor akan menerima bunga tetap selama periode tertentu dan mendapatkan kembali pokoknya saat jatuh tempo.
Misalnya, membeli obligasi pemerintah Korea 3 tahun berarti meminjamkan uang kepada pemerintah. Pemerintah akan membayar bunga sekitar 3.32% selama 3 tahun dan mengembalikan seluruh pokoknya setelah 3 tahun. Jika memperhatikan tingkat deposito bank yang saat ini sekitar 2%, maka investasi obligasi menjadi lebih menarik.
Terutama sejak tahun 2025, volume transaksi harian pasar obligasi Korea mencapai sekitar 25 triliun won, menunjukkan pasar yang semakin aktif dan memudahkan investor individu untuk mengakses obligasi.
Ada dua cara mendapatkan uang dari obligasi
Pertama: Pendapatan bunga rutin
Dengan membeli obligasi, Anda akan menerima bunga secara berkala setiap 3-6 bulan. Seperti gaji bulanan, ini menciptakan aliran kas yang teratur. Ini adalah perbedaan utama dengan saham. Saham bisa memberikan dividen, tapi tidak pasti, sedangkan obligasi dengan kredit yang baik dari penerbitnya akan hampir pasti membayar bunga.
Misalnya, obligasi pemerintah 3 tahun(3.32%) dan obligasi korporasi(dengan peringkat kredit 4~6%), menunjukkan bahwa dalam kondisi suku bunga saat ini, obligasi jauh lebih menarik daripada deposito.
Kedua: Keuntungan dari selisih harga (capital gain)
Harga obligasi berfluktuasi sesuai tingkat suku bunga pasar. Jika suku bunga turun, harga obligasi yang sudah diterbitkan akan naik, dan sebaliknya. Contohnya, membeli obligasi dengan bunga 3% seharga 10 juta won, lalu suku bunga pasar turun menjadi 2%, maka nilai obligasi tersebut akan meningkat. Jika dijual saat itu, Anda bisa mendapatkan keuntungan dari selisih harga.
Ini berarti obligasi juga bisa dijual sebelum jatuh tempo untuk meraih keuntungan, sama seperti saham.
Jenis obligasi: mana yang harus dipilih?
Obligasi pemerintah: Pilihan paling aman
Diterbitkan oleh pemerintah, sehingga memiliki peringkat kredit tertinggi. Hasil dari obligasi pemerintah Korea 3 tahun sekitar 3.32%, yang berarti risiko kehilangan pokok hampir tidak ada. Jika mengutamakan stabilitas, mulai dari obligasi pemerintah adalah pilihan terbaik.
Obligasi khusus: Keseimbangan antara stabilitas dan imbal hasil
Diterbitkan oleh perusahaan milik negara seperti Korea Electric Power Corporation atau Korea Expressway Corporation. Memberikan imbal hasil sedikit lebih tinggi(misalnya: obligasi 10 tahun Korea Electric Power 4.10%) dan tetap memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Cocok untuk investor pemula sebagai langkah kedua.
Obligasi korporasi: Imbal hasil lebih tinggi tapi harus hati-hati
Diterbitkan oleh perusahaan swasta, tingkat bunga sangat bergantung pada peringkat kredit. Contohnya, obligasi Samsung Electronics 3 tahun(dengan bunga 3.95%) cukup aman, tetapi semakin rendah peringkat kreditnya, semakin tinggi bunga yang ditawarkan, dan risiko kebangkrutan perusahaan juga meningkat. Pastikan untuk memeriksa kondisi keuangan penerbit secara teliti sebelum berinvestasi.
Obligasi AS: Diversifikasi global
Aset yang paling aman dan diakui secara global. Saat ini, hasil dari obligasi 10 tahun sekitar 4.25%, lebih tinggi dari obligasi Korea, dan peringkat kredit(AAA) tertinggi. Memiliki aset dalam dolar dan mendapatkan manfaat diversifikasi global, sehingga banyak investor Korea tertarik.
Obligasi ESG: Nilai sosial dan imbal hasil sekaligus
Diterbitkan untuk tujuan keberlanjutan lingkungan dan tanggung jawab sosial. Selain keuntungan finansial, bisa mendapatkan manfaat pajak tambahan, menjadikannya tren global yang sedang berkembang.
Obligasi vs deposito: apa bedanya sebenarnya?
Banyak orang bingung membedakan keduanya. Secara kasat mata terlihat mirip, tapi strukturnya sangat berbeda.
Deposito adalah menyimpan uang di bank dan menunggu sampai jatuh tempo untuk mendapatkan bunga tetap. Dilindungi oleh undang-undang perlindungan deposito hingga 5.000 juta won(akan diperluas menjadi 1 miliar won tahun ini). Tapi, jika dibatalkan sebelum jatuh tempo, bunga akan dipotong, dan jika suku bunga turun, Anda tidak akan mendapatkan bunga tambahan.
Obligasi tergantung pada peringkat kredit penerbitnya, dan kemungkinan pengembalian pokok ditentukan oleh hal tersebut. Tidak dilindungi oleh undang-undang perlindungan deposito, tapi bisa diperdagangkan bebas di pasar sebelum jatuh tempo. Jika suku bunga turun, harga obligasi akan naik, memungkinkan keuntungan dari selisih harga.
Bayangkan deposito sebagai “layanan penyimpanan”, dan obligasi sebagai “aset yang diperdagangkan”.
Tiga risiko utama dalam investasi obligasi yang harus diketahui
Risiko 1: Ketakutan kenaikan suku bunga
Jika suku bunga naik, harga obligasi akan turun. Misalnya, membeli obligasi bunga 3%, lalu suku bunga pasar tiba-tiba naik menjadi 4%, obligasi baru akan lebih menarik, sehingga harga obligasi lama akan turun.
Solusi: Jika perkiraan suku bunga akan naik, pilih obligasi jangka pendek 1~3 tahun atau pertimbangkan obligasi bunga mengambang. Jika kenaikan suku bunga tidak besar, kerugian akan terbatas.
Risiko 2: Risiko gagal bayar penerbit
Jika membeli obligasi perusahaan dan perusahaan tersebut bangkrut, Anda mungkin tidak akan mendapatkan kembali pokoknya. Risiko ini lebih tinggi untuk obligasi dengan peringkat kredit rendah.
Solusi: Mulailah dari obligasi dengan peringkat AAA atau AA yang memiliki risiko lebih rendah. Selalu periksa laporan keuangan dan penilaian kredit terbaru dari penerbit.
Risiko 3: Fluktuasi nilai tukar mata uang asing
Investasi obligasi luar negeri seperti obligasi AS akan dipengaruhi oleh nilai tukar dolar/won. Jika dolar melemah, meskipun bunga tetap sama, nilai dalam won bisa turun dan menyebabkan kerugian.
Solusi: Gunakan ETF lindung nilai mata uang atau batasi investasi obligasi luar negeri agar risiko tersebar.
Praktik: Bagaimana memulai investasi obligasi?
Cara 1: Membeli obligasi secara langsung
Beli obligasi pemerintah atau korporasi melalui aplikasi sekuritas, bank, atau platform keuangan. Keuntungan: hanya bayar pajak penghasilan bunga, dan keuntungan dari selisih harga tidak dikenai pajak. Transparan dan hasilnya tinggi, tapi harus memilih obligasi dan menganalisis pasar sendiri.
Cara 2: Reksa dana obligasi
Beli reksa dana yang menginvestasikan dana ke berbagai obligasi melalui manajer investasi. Efek diversifikasi dengan modal kecil dan mendapatkan pengelolaan profesional. Tapi, ada biaya manajemen dana.
Cara 3: ETF obligasi
Diperdagangkan di bursa seperti saham, bisa dibeli dan dijual kapan saja. Biaya rendah, likuiditas tinggi, dan diversifikasi yang baik. Cara paling mudah untuk pemula.
Siapa yang cocok berinvestasi obligasi?
Mereka yang membutuhkan aliran kas rutin
Freelancer atau pengusaha kecil yang membutuhkan penghasilan tambahan selain gaji akan tertarik dengan pembayaran bunga rutin dari obligasi.
Mereka yang sedang menyiapkan pensiun
Setelah pensiun, membutuhkan penghasilan stabil tanpa volatilitas besar untuk biaya hidup. Obligasi memenuhi syarat ini secara sempurna.
Mereka yang takut volatilitas saham
Dengan mengalokasikan 30~50% portofolio ke obligasi, volatilitas keseluruhan aset dapat dikurangi secara signifikan. Karena obligasi dan saham cenderung bergerak berlawanan, ini adalah strategi diversifikasi risiko yang optimal.
Mereka yang tertarik penghematan pajak
Investasi langsung ke obligasi hanya dikenai pajak penghasilan bunga, dan keuntungan dari selisih harga tidak dikenai pajak. Selain itu, obligasi ESG bisa mendapatkan manfaat pajak tambahan.
Mereka yang menginginkan diversifikasi aset global
Investasi ke obligasi luar negeri seperti obligasi AS memungkinkan memiliki aset dolar sekaligus mendiversifikasi risiko nilai tukar.
Daftar periksa sebelum memulai investasi obligasi tahun 2025
Periksa peringkat kredit: AAA, AA adalah aman, hindari di bawah BB untuk pemula.
Pahami struktur jatuh tempo: Pilih jangka pendek, menengah, atau panjang sesuai rencana keuangan.
Periksa metode pembayaran bunga: Pastikan frekuensi pembayaran bunga 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun.
Perkirakan prospek suku bunga: Jika diperkirakan akan naik, pilih obligasi jangka pendek; jika turun, jangka panjang.
Bandingkan biaya: Untuk reksa dana dan ETF, perhatikan biaya yang dapat mempengaruhi hasil jangka panjang.
Periksa kondisi keuangan penerbit: Saat membeli obligasi korporasi, pastikan laporan keuangan 3 tahun terakhir.
Penutup: Mengapa mulai investasi obligasi di tahun 2025 sekarang?
Suku bunga deposito rendah dan pasar saham masih tidak stabil. Di saat seperti ini, investasi obligasi menjadi pilihan yang menonjol. Obligasi menawarkan hasil lebih tinggi dari deposito dan risiko jauh lebih rendah daripada saham, sebagai “pilihan ketiga” yang efektif.
Jika baru memulai, mulai dari obligasi pemerintah atau ETF obligasi yang aman, lalu secara bertahap memperluas portofolio ke obligasi khusus dan korporasi. Dengan ekspektasi penurunan suku bunga, harga obligasi cenderung naik, jadi sekarang adalah waktu yang tepat untuk mempertimbangkan investasi obligasi.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Memahami Investasi Obligasi 2025: Cara Pemula Mendapatkan Keuntungan
Dalam pasar keuangan yang bergejolak saat ini, obligasi semakin mendapatkan perhatian di antara para investor yang menginginkan stabilitas sekaligus imbal hasil. Tingkat pengembalian deposito yang tidak memuaskan dan volatilitas saham yang tinggi membuat banyak orang mencari alternatif yang tepat. Jawabannya adalah obligasi. Mari kita pelajari secara rinci bagaimana pasar obligasi berubah pada tahun 2025 dan obligasi apa yang harus dipilih oleh pemula.
Apa sebenarnya obligasi sehingga perhatian terhadapnya meningkat?
Banyak orang bertanya, “Obligasi itu apa dan apa bedanya dengan deposito?” Singkatnya, obligasi adalah dokumen yang diterbitkan oleh pemerintah, perusahaan, atau lembaga publik saat mereka membutuhkan dana, dan berisi janji untuk meminjamkan uang kepada investor. Sebagai imbalannya, investor akan menerima bunga tetap selama periode tertentu dan mendapatkan kembali pokoknya saat jatuh tempo.
Misalnya, membeli obligasi pemerintah Korea 3 tahun berarti meminjamkan uang kepada pemerintah. Pemerintah akan membayar bunga sekitar 3.32% selama 3 tahun dan mengembalikan seluruh pokoknya setelah 3 tahun. Jika memperhatikan tingkat deposito bank yang saat ini sekitar 2%, maka investasi obligasi menjadi lebih menarik.
Terutama sejak tahun 2025, volume transaksi harian pasar obligasi Korea mencapai sekitar 25 triliun won, menunjukkan pasar yang semakin aktif dan memudahkan investor individu untuk mengakses obligasi.
Ada dua cara mendapatkan uang dari obligasi
Pertama: Pendapatan bunga rutin
Dengan membeli obligasi, Anda akan menerima bunga secara berkala setiap 3-6 bulan. Seperti gaji bulanan, ini menciptakan aliran kas yang teratur. Ini adalah perbedaan utama dengan saham. Saham bisa memberikan dividen, tapi tidak pasti, sedangkan obligasi dengan kredit yang baik dari penerbitnya akan hampir pasti membayar bunga.
Misalnya, obligasi pemerintah 3 tahun(3.32%) dan obligasi korporasi(dengan peringkat kredit 4~6%), menunjukkan bahwa dalam kondisi suku bunga saat ini, obligasi jauh lebih menarik daripada deposito.
Kedua: Keuntungan dari selisih harga (capital gain)
Harga obligasi berfluktuasi sesuai tingkat suku bunga pasar. Jika suku bunga turun, harga obligasi yang sudah diterbitkan akan naik, dan sebaliknya. Contohnya, membeli obligasi dengan bunga 3% seharga 10 juta won, lalu suku bunga pasar turun menjadi 2%, maka nilai obligasi tersebut akan meningkat. Jika dijual saat itu, Anda bisa mendapatkan keuntungan dari selisih harga.
Ini berarti obligasi juga bisa dijual sebelum jatuh tempo untuk meraih keuntungan, sama seperti saham.
Jenis obligasi: mana yang harus dipilih?
Obligasi pemerintah: Pilihan paling aman
Diterbitkan oleh pemerintah, sehingga memiliki peringkat kredit tertinggi. Hasil dari obligasi pemerintah Korea 3 tahun sekitar 3.32%, yang berarti risiko kehilangan pokok hampir tidak ada. Jika mengutamakan stabilitas, mulai dari obligasi pemerintah adalah pilihan terbaik.
Obligasi khusus: Keseimbangan antara stabilitas dan imbal hasil
Diterbitkan oleh perusahaan milik negara seperti Korea Electric Power Corporation atau Korea Expressway Corporation. Memberikan imbal hasil sedikit lebih tinggi(misalnya: obligasi 10 tahun Korea Electric Power 4.10%) dan tetap memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Cocok untuk investor pemula sebagai langkah kedua.
Obligasi korporasi: Imbal hasil lebih tinggi tapi harus hati-hati
Diterbitkan oleh perusahaan swasta, tingkat bunga sangat bergantung pada peringkat kredit. Contohnya, obligasi Samsung Electronics 3 tahun(dengan bunga 3.95%) cukup aman, tetapi semakin rendah peringkat kreditnya, semakin tinggi bunga yang ditawarkan, dan risiko kebangkrutan perusahaan juga meningkat. Pastikan untuk memeriksa kondisi keuangan penerbit secara teliti sebelum berinvestasi.
Obligasi AS: Diversifikasi global
Aset yang paling aman dan diakui secara global. Saat ini, hasil dari obligasi 10 tahun sekitar 4.25%, lebih tinggi dari obligasi Korea, dan peringkat kredit(AAA) tertinggi. Memiliki aset dalam dolar dan mendapatkan manfaat diversifikasi global, sehingga banyak investor Korea tertarik.
Obligasi ESG: Nilai sosial dan imbal hasil sekaligus
Diterbitkan untuk tujuan keberlanjutan lingkungan dan tanggung jawab sosial. Selain keuntungan finansial, bisa mendapatkan manfaat pajak tambahan, menjadikannya tren global yang sedang berkembang.
Obligasi vs deposito: apa bedanya sebenarnya?
Banyak orang bingung membedakan keduanya. Secara kasat mata terlihat mirip, tapi strukturnya sangat berbeda.
Deposito adalah menyimpan uang di bank dan menunggu sampai jatuh tempo untuk mendapatkan bunga tetap. Dilindungi oleh undang-undang perlindungan deposito hingga 5.000 juta won(akan diperluas menjadi 1 miliar won tahun ini). Tapi, jika dibatalkan sebelum jatuh tempo, bunga akan dipotong, dan jika suku bunga turun, Anda tidak akan mendapatkan bunga tambahan.
Obligasi tergantung pada peringkat kredit penerbitnya, dan kemungkinan pengembalian pokok ditentukan oleh hal tersebut. Tidak dilindungi oleh undang-undang perlindungan deposito, tapi bisa diperdagangkan bebas di pasar sebelum jatuh tempo. Jika suku bunga turun, harga obligasi akan naik, memungkinkan keuntungan dari selisih harga.
Bayangkan deposito sebagai “layanan penyimpanan”, dan obligasi sebagai “aset yang diperdagangkan”.
Tiga risiko utama dalam investasi obligasi yang harus diketahui
Risiko 1: Ketakutan kenaikan suku bunga
Jika suku bunga naik, harga obligasi akan turun. Misalnya, membeli obligasi bunga 3%, lalu suku bunga pasar tiba-tiba naik menjadi 4%, obligasi baru akan lebih menarik, sehingga harga obligasi lama akan turun.
Solusi: Jika perkiraan suku bunga akan naik, pilih obligasi jangka pendek 1~3 tahun atau pertimbangkan obligasi bunga mengambang. Jika kenaikan suku bunga tidak besar, kerugian akan terbatas.
Risiko 2: Risiko gagal bayar penerbit
Jika membeli obligasi perusahaan dan perusahaan tersebut bangkrut, Anda mungkin tidak akan mendapatkan kembali pokoknya. Risiko ini lebih tinggi untuk obligasi dengan peringkat kredit rendah.
Solusi: Mulailah dari obligasi dengan peringkat AAA atau AA yang memiliki risiko lebih rendah. Selalu periksa laporan keuangan dan penilaian kredit terbaru dari penerbit.
Risiko 3: Fluktuasi nilai tukar mata uang asing
Investasi obligasi luar negeri seperti obligasi AS akan dipengaruhi oleh nilai tukar dolar/won. Jika dolar melemah, meskipun bunga tetap sama, nilai dalam won bisa turun dan menyebabkan kerugian.
Solusi: Gunakan ETF lindung nilai mata uang atau batasi investasi obligasi luar negeri agar risiko tersebar.
Praktik: Bagaimana memulai investasi obligasi?
Cara 1: Membeli obligasi secara langsung
Beli obligasi pemerintah atau korporasi melalui aplikasi sekuritas, bank, atau platform keuangan. Keuntungan: hanya bayar pajak penghasilan bunga, dan keuntungan dari selisih harga tidak dikenai pajak. Transparan dan hasilnya tinggi, tapi harus memilih obligasi dan menganalisis pasar sendiri.
Cara 2: Reksa dana obligasi
Beli reksa dana yang menginvestasikan dana ke berbagai obligasi melalui manajer investasi. Efek diversifikasi dengan modal kecil dan mendapatkan pengelolaan profesional. Tapi, ada biaya manajemen dana.
Cara 3: ETF obligasi
Diperdagangkan di bursa seperti saham, bisa dibeli dan dijual kapan saja. Biaya rendah, likuiditas tinggi, dan diversifikasi yang baik. Cara paling mudah untuk pemula.
Siapa yang cocok berinvestasi obligasi?
Mereka yang membutuhkan aliran kas rutin
Freelancer atau pengusaha kecil yang membutuhkan penghasilan tambahan selain gaji akan tertarik dengan pembayaran bunga rutin dari obligasi.
Mereka yang sedang menyiapkan pensiun
Setelah pensiun, membutuhkan penghasilan stabil tanpa volatilitas besar untuk biaya hidup. Obligasi memenuhi syarat ini secara sempurna.
Mereka yang takut volatilitas saham
Dengan mengalokasikan 30~50% portofolio ke obligasi, volatilitas keseluruhan aset dapat dikurangi secara signifikan. Karena obligasi dan saham cenderung bergerak berlawanan, ini adalah strategi diversifikasi risiko yang optimal.
Mereka yang tertarik penghematan pajak
Investasi langsung ke obligasi hanya dikenai pajak penghasilan bunga, dan keuntungan dari selisih harga tidak dikenai pajak. Selain itu, obligasi ESG bisa mendapatkan manfaat pajak tambahan.
Mereka yang menginginkan diversifikasi aset global
Investasi ke obligasi luar negeri seperti obligasi AS memungkinkan memiliki aset dolar sekaligus mendiversifikasi risiko nilai tukar.
Daftar periksa sebelum memulai investasi obligasi tahun 2025
Penutup: Mengapa mulai investasi obligasi di tahun 2025 sekarang?
Suku bunga deposito rendah dan pasar saham masih tidak stabil. Di saat seperti ini, investasi obligasi menjadi pilihan yang menonjol. Obligasi menawarkan hasil lebih tinggi dari deposito dan risiko jauh lebih rendah daripada saham, sebagai “pilihan ketiga” yang efektif.
Jika baru memulai, mulai dari obligasi pemerintah atau ETF obligasi yang aman, lalu secara bertahap memperluas portofolio ke obligasi khusus dan korporasi. Dengan ekspektasi penurunan suku bunga, harga obligasi cenderung naik, jadi sekarang adalah waktu yang tepat untuk mempertimbangkan investasi obligasi.