Dalam beberapa tahun terakhir, saham komoditas mengalami penurunan performa di tengah lingkungan suku bunga tinggi secara global dan permintaan impor dari China yang lemah, sehingga banyak dana menarik diri dari industri terkait. Namun, situasi sedang berbalik. Dengan dimulainya siklus penurunan suku bunga oleh bank sentral di seluruh dunia, ditambah dengan peluncuran kebijakan stimulus ekonomi secara intensif oleh pemerintah China, saham komoditas mulai menarik perhatian investor dengan wajah baru. Penurunan suku bunga yang menurunkan biaya pembiayaan sangat menguntungkan bagi saham komoditas yang berkapitalisasi besar, dan efek rotasi pasar sudah mulai terlihat.
Lalu, bagaimana investor harus memanfaatkan peluang saham komoditas selama siklus penurunan suku bunga ini? Saham apa saja di pasar AS dan Taiwan yang layak diperhatikan? Artikel ini akan menganalisis secara komprehensif dari tiga dimensi: fundamental industri, target spesifik, dan indikator investasi.
Perbedaan Antara Saham Komoditas dan Saham Konsep Komoditas
Komoditas adalah hasil langsung dari alam yang belum diproses secara mendalam, meliputi bidang pertanian, kehutanan, perikanan, sumber daya mineral, dan energi. Saham komoditas (atau disebut saham konsep komoditas) adalah perusahaan yang bergerak dalam penambangan, peleburan, dan pemurnian sumber daya tersebut.
Sebagai contoh, saham perusahaan penambangan bijih besi terkemuka di dunia, Vale (VALE3), mewakili peluang investasi di bidang bijih besi; harga saham ExxonMobil (XOM), raksasa minyak AS, secara langsung mencerminkan perubahan penawaran dan permintaan pasar minyak serta prospek industri. Fluktuasi harga saham perusahaan ini sangat terkait dengan harga komoditas dan hubungan penawaran dan permintaan pasar, menjadikannya jalur efektif untuk berpartisipasi dalam pasar komoditas.
Rekomendasi Penempatan Saham Komoditas di Pasar AS
Perlu diperhatikan: SPDR S&P Materials ETF (XLB)
ETF ini mencakup perusahaan penting di bidang komoditas di AS, meliputi bahan kimia, logam, petrokimia, plastik, dan bahan bangunan, menjadi alat pilihan untuk mengikuti kinerja industri komoditas secara keseluruhan di pasar AS.
Apa prospek investasi tahun 2025 yang menjanjikan? Pertama, pemerintahan Trump kemungkinan akan meningkatkan pengeluaran infrastruktur, yang secara langsung akan mendorong permintaan bahan bangunan seperti baja dan semen. Kedua, siklus penurunan suku bunga akan menurunkan biaya pinjaman bagi perusahaan berkapital besar, dan saham komoditas sebagai industri berkapital besar akan menjadi penerima manfaat utama. Selain itu, dalam lingkungan penurunan suku bunga, aset safe haven seperti emas semakin menarik—karena hasil obligasi menurun, permintaan terhadap emas pasti meningkat. Terakhir, perubahan geopolitik dapat meningkatkan daya saing komoditas AS di tingkat global, mendukung perusahaan komoditas lokal. Dari segi valuasi, rasio harga terhadap laba (PER) saham komoditas saat ini masih dalam level wajar dan memiliki ruang untuk naik.
Fokus utama: ExxonMobil (XOM)
Sebagai perusahaan minyak terbesar di AS, ExxonMobil sedang mengalami masa transformasi strategis penting. Perusahaan berencana menginvestasikan antara 28 hingga 33 miliar dolar AS setiap tahun dari 2026 hingga 2030 untuk memperbesar produksi gas alam dan menurunkan biaya produksi minyak.
Bagaimana prospek transformasi ini? Meskipun regulasi lingkungan global semakin ketat, perubahan politik dapat memberikan dukungan kebijakan bagi perusahaan energi tradisional, mempercepat proses transformasi. Diperkirakan, kinerja laba perusahaan setelah 2025 akan menunjukkan tren naik, menjadikannya saham komoditas yang patut diperhatikan.
Portofolio energi: SPDR Energy Select Sector ETF (XLE)
Jika kekhawatiran terhadap risiko satu perusahaan minyak tertentu dirasa terlalu tinggi, pertimbangkan ETF ini yang terdiri dari perusahaan-perusahaan utama di industri minyak dan energi, mencakup penambangan, pemurnian, dan penyimpanan.
Pada tahun 2025, industri minyak secara keseluruhan diperkirakan akan bergerak netral, tanpa perubahan besar dalam penawaran dan permintaan. Namun, keuntungan dari biaya pembiayaan yang lebih rendah selama siklus penurunan suku bunga tetap memberikan manfaat besar bagi perusahaan yang berkapital besar. Dalam siklus ini, biaya operasional perusahaan berkapital besar akan menurun secara signifikan, sehingga layak untuk dimasukkan ke dalam portofolio investasi.
Prospek tambang tembaga cerah: BHP
Perusahaan tambang terbesar dunia, BHP, selama dua tahun terakhir menunjukkan performa yang relatif suram. Meskipun pasar saham global naik pesat karena permintaan AI, harga saham perusahaan ini tidak ikut naik secara seimbang, karena permintaan China yang tertekan menyebabkan harga tembaga dan bijih besi melemah, dan biaya pengangkutan yang meningkat semakin menekan laba.
Namun, 2025 bisa menjadi titik balik. Di satu sisi, China telah meluncurkan beberapa paket kebijakan ekonomi dan diharapkan akan melanjutkan stimulus di tahun baru, yang akan meningkatkan permintaan komoditas. Di sisi lain, perkembangan industri AI yang pesat dan kebutuhan energi yang besar pasti akan mendorong permintaan tembaga secara besar-besaran, bahkan diperkirakan akan muncul “krisis kekurangan tembaga”. Dengan cadangan tembaga yang melimpah, prospek jangka panjang BHP patut diantisipasi.
Analisis Pilihan Saham Komoditas di Pasar Taiwan
Peluang utama: Asia Cement (1102.TW)
Selama beberapa tahun terakhir, industri semen mengalami tekanan laba akibat perlambatan properti di China, tetapi kinerja Asia Cement relatif tahan banting, berkat pengendalian biaya yang jauh lebih baik dibanding pesaing di Taiwan.
Apa keunggulan perusahaan ini? Pengendalian biaya adalah kunci utama. Biaya utama produksi semen berasal dari bahan bakar batu bara, dan Asia Cement menerapkan strategi diversifikasi usaha, menandatangani kontrak pasokan jangka panjang dengan Taiwan Power Company, serta mencapai kesepakatan energi dengan pemerintah China. Selain itu, perusahaan juga berinvestasi di perusahaan pelayaran Yu Min, yang biaya pengangkutannya lebih rendah dibanding pesaing, sehingga memastikan kestabilan laba.
Apa nilai investasi tahun 2025? Kebijakan properti China mulai menunjukkan pelonggaran akhir 2024, dan diharapkan akan semakin didukung tahun ini. Selain itu, pasokan semen global semakin ketat, dan harga diperkirakan akan pulih secara bertahap, sehingga industri semen berpotensi mengalami rebound dari titik terendah. Sebagai pemimpin laba di industri, Asia Cement berpotensi menjadi pionir rebound, dan layak menjadi fokus utama dalam portofolio saham komoditas Taiwan.
Keunggulan biaya yang jelas: Tung Ho Steel (2006.TW)
Berbeda dengan China Steel, pergerakan harga saham Tung Ho Steel lebih berkaitan erat dengan pasar baja, karena alasan utama. China Steel memulai dari peleburan bijih besi dengan biaya produksi lebih tinggi; sedangkan Tung Ho Steel utamanya memproduksi baja dari limbah baja, sehingga biaya energi lebih kompetitif dan dampak kenaikan biaya lingkungan terbatas.
Perusahaan ini memproduksi H-beam untuk bangunan dan perkantoran, permintaannya relatif stabil. Variabel utama yang mempengaruhi laba adalah harga baja akhir. Meskipun permintaan baja diperkirakan akan pulih tahun 2025, tetap perlu memperhatikan kebijakan tarif Trump—jika perusahaan internasional memilih membangun pabrik di AS, pesanan Tung Ho Steel bisa terpengaruh. Kebijakan pemerintah menjadi indikator utama yang harus diikuti.
Tujuh Indikator Kunci Investasi Saham Komoditas
Indikator 1: Analisis Permintaan Akhir
Permintaan produk pertanian biasanya stabil, kecuali terjadi bencana alam besar. Permintaan bahan industri seperti semen, bijih besi, dan tembaga sangat terkait dengan investasi infrastruktur. China sebagai importir terbesar komoditas global, langsung menentukan tren permintaan global melalui kebijakan. Investor harus memperhatikan apakah China akan meluncurkan program investasi infrastruktur baru.
Indikator 2: Perubahan di Sisi Penawaran
Saat perang Rusia-Ukraina pecah tahun 2022, harga pangan dan pupuk melonjak tajam, menunjukkan kekurangan pasokan yang memberi peluang investasi di bidang pertambangan. Untuk investasi di industri pertambangan, perlu memperhatikan perubahan regulasi lingkungan, kecelakaan tambang penting, gangguan produksi minyak, dan kejadian lain yang dapat menyebabkan fluktuasi harga jangka pendek. Keputusan pengurangan produksi OPEC dan OPEC+ juga mempengaruhi pasokan minyak.
Indikator 3: Biaya Logistik dan Transportasi
Pengangkutan barang curah seperti bijih besi dan baja adalah jalur utama pengangkutan komoditas. Indeks harga pengangkutan curah (BDI) mencerminkan kekuatan permintaan pasar—ketika permintaan meningkat, perusahaan akan membayar biaya pengangkutan lebih tinggi, dan indeks BDI akan naik. Melacak tren BDI membantu investor memperkirakan arah harga komoditas jangka pendek.
Indikator 4: Risiko Geopolitik
Kebijakan tarif dan perdagangan internasional langsung mempengaruhi pola impor dan ekspor komoditas. Meskipun membeli dari wilayah dengan biaya terendah adalah pilihan rasional, negara-negara bisa memberlakukan tarif untuk melindungi industri domestik. Investor harus memperhatikan produk mana yang dikenai tarif impor, karena hal ini akan mempengaruhi biaya dan profitabilitas perusahaan terkait.
Indikator 5: Tren Regulasi Lingkungan
Regulasi lingkungan global semakin ketat, dan industri dengan emisi karbon tinggi serta konsumsi energi besar seperti peleburan besi dan petrokimia menghadapi tekanan biaya yang meningkat. Perusahaan pertambangan juga terkena dampak regulasi lingkungan, sehingga biaya operasional terus meningkat. Perubahan regulasi sangat mempengaruhi laba perusahaan komoditas.
Indikator 6: Siklus Ekonomi Global
Harga logam mulia sangat terkait dengan kondisi ekonomi global. Emas terkait permintaan perhiasan dan cadangan bank sentral, sedangkan tembaga dan bijih besi bergantung pada kecepatan perkembangan industri. Saat ekonomi membaik, permintaan dan harga meningkat; namun, ada pengecualian seperti industri kendaraan listrik yang mendorong permintaan nikel secara besar-besaran, tetapi karena over-eksploitasi, harga akhir bisa tertekan akibat kompetisi harga. Keseimbangan penawaran dan permintaan harus dilihat berdasarkan kapasitas produksi saat ini.
Indikator 7: Tingkat Suku Bunga dan Kebijakan
Suku bunga sangat mempengaruhi nilai investasi emas secara langsung. Kebijakan pelonggaran kuantitatif (QE) oleh bank sentral menurunkan daya beli uang tunai dan mendorong bank sentral serta lembaga keuangan meningkatkan cadangan emas. Basel III mengklasifikasikan emas sebagai aset kelas satu yang setara dengan obligasi pemerintah dan kas, sehingga meningkatkan permintaan emas dari sektor keuangan. Dalam lingkungan suku bunga rendah, emas cenderung menguntungkan; sebaliknya, kenaikan suku bunga menjadi hambatan.
Mengapa Memilih Saham Komoditas Daripada Investasi Langsung?
Pendapatan dividen memberikan imbal hasil stabil jangka panjang
Harga komoditas sering kali diatur oleh pemerintah dan cocok untuk trading jangka pendek, tetapi saham perusahaan komoditas dapat memberikan dividen secara reguler, sehingga hasilnya lebih stabil dalam jangka panjang.
Harga saham perusahaan biasanya lebih dulu mencerminkan sentimen positif pasar
Kenaikan dan penurunan harga komoditas membutuhkan waktu lama untuk terealisasi, tetapi harga saham perusahaan terkait biasanya sudah mencerminkan sentimen positif industri lebih awal, memberi peluang bagi investor untuk mengambil posisi lebih awal.
Menghindari risiko pertarungan dana dan short squeeze
Investasi langsung di komoditas rentan terhadap pertarungan dana besar dan risiko short squeeze. Sejarah menunjukkan bahwa lonjakan harga komoditas sering dipicu oleh perang dana, bukan ketidakseimbangan penawaran dan permintaan. Berinvestasi di perusahaan tercatat dapat secara efektif menghindari risiko ini.
Kesimpulan
Dalam konteks global yang memasuki siklus penurunan suku bunga dan kebijakan ekonomi China yang terus mendukung, saham komoditas sedang menghadapi peluang penting untuk dialokasikan. Baik ETF di pasar AS maupun perusahaan utama di Taiwan layak menjadi fokus investasi jangka panjang. Dengan memahami ketujuh indikator investasi di atas, investor akan lebih percaya diri dalam melakukan penempatan posisi yang tepat di pasar saham komoditas.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Bagaimana strategi penempatan saham bahan mentah di era penurunan suku bunga? Penjelasan mendalam tentang peluang investasi tahun 2025
Mengapa Saham Komoditas Menjadi Tren Berikutnya?
Dalam beberapa tahun terakhir, saham komoditas mengalami penurunan performa di tengah lingkungan suku bunga tinggi secara global dan permintaan impor dari China yang lemah, sehingga banyak dana menarik diri dari industri terkait. Namun, situasi sedang berbalik. Dengan dimulainya siklus penurunan suku bunga oleh bank sentral di seluruh dunia, ditambah dengan peluncuran kebijakan stimulus ekonomi secara intensif oleh pemerintah China, saham komoditas mulai menarik perhatian investor dengan wajah baru. Penurunan suku bunga yang menurunkan biaya pembiayaan sangat menguntungkan bagi saham komoditas yang berkapitalisasi besar, dan efek rotasi pasar sudah mulai terlihat.
Lalu, bagaimana investor harus memanfaatkan peluang saham komoditas selama siklus penurunan suku bunga ini? Saham apa saja di pasar AS dan Taiwan yang layak diperhatikan? Artikel ini akan menganalisis secara komprehensif dari tiga dimensi: fundamental industri, target spesifik, dan indikator investasi.
Perbedaan Antara Saham Komoditas dan Saham Konsep Komoditas
Komoditas adalah hasil langsung dari alam yang belum diproses secara mendalam, meliputi bidang pertanian, kehutanan, perikanan, sumber daya mineral, dan energi. Saham komoditas (atau disebut saham konsep komoditas) adalah perusahaan yang bergerak dalam penambangan, peleburan, dan pemurnian sumber daya tersebut.
Sebagai contoh, saham perusahaan penambangan bijih besi terkemuka di dunia, Vale (VALE3), mewakili peluang investasi di bidang bijih besi; harga saham ExxonMobil (XOM), raksasa minyak AS, secara langsung mencerminkan perubahan penawaran dan permintaan pasar minyak serta prospek industri. Fluktuasi harga saham perusahaan ini sangat terkait dengan harga komoditas dan hubungan penawaran dan permintaan pasar, menjadikannya jalur efektif untuk berpartisipasi dalam pasar komoditas.
Rekomendasi Penempatan Saham Komoditas di Pasar AS
Perlu diperhatikan: SPDR S&P Materials ETF (XLB)
ETF ini mencakup perusahaan penting di bidang komoditas di AS, meliputi bahan kimia, logam, petrokimia, plastik, dan bahan bangunan, menjadi alat pilihan untuk mengikuti kinerja industri komoditas secara keseluruhan di pasar AS.
Apa prospek investasi tahun 2025 yang menjanjikan? Pertama, pemerintahan Trump kemungkinan akan meningkatkan pengeluaran infrastruktur, yang secara langsung akan mendorong permintaan bahan bangunan seperti baja dan semen. Kedua, siklus penurunan suku bunga akan menurunkan biaya pinjaman bagi perusahaan berkapital besar, dan saham komoditas sebagai industri berkapital besar akan menjadi penerima manfaat utama. Selain itu, dalam lingkungan penurunan suku bunga, aset safe haven seperti emas semakin menarik—karena hasil obligasi menurun, permintaan terhadap emas pasti meningkat. Terakhir, perubahan geopolitik dapat meningkatkan daya saing komoditas AS di tingkat global, mendukung perusahaan komoditas lokal. Dari segi valuasi, rasio harga terhadap laba (PER) saham komoditas saat ini masih dalam level wajar dan memiliki ruang untuk naik.
Fokus utama: ExxonMobil (XOM)
Sebagai perusahaan minyak terbesar di AS, ExxonMobil sedang mengalami masa transformasi strategis penting. Perusahaan berencana menginvestasikan antara 28 hingga 33 miliar dolar AS setiap tahun dari 2026 hingga 2030 untuk memperbesar produksi gas alam dan menurunkan biaya produksi minyak.
Bagaimana prospek transformasi ini? Meskipun regulasi lingkungan global semakin ketat, perubahan politik dapat memberikan dukungan kebijakan bagi perusahaan energi tradisional, mempercepat proses transformasi. Diperkirakan, kinerja laba perusahaan setelah 2025 akan menunjukkan tren naik, menjadikannya saham komoditas yang patut diperhatikan.
Portofolio energi: SPDR Energy Select Sector ETF (XLE)
Jika kekhawatiran terhadap risiko satu perusahaan minyak tertentu dirasa terlalu tinggi, pertimbangkan ETF ini yang terdiri dari perusahaan-perusahaan utama di industri minyak dan energi, mencakup penambangan, pemurnian, dan penyimpanan.
Pada tahun 2025, industri minyak secara keseluruhan diperkirakan akan bergerak netral, tanpa perubahan besar dalam penawaran dan permintaan. Namun, keuntungan dari biaya pembiayaan yang lebih rendah selama siklus penurunan suku bunga tetap memberikan manfaat besar bagi perusahaan yang berkapital besar. Dalam siklus ini, biaya operasional perusahaan berkapital besar akan menurun secara signifikan, sehingga layak untuk dimasukkan ke dalam portofolio investasi.
Prospek tambang tembaga cerah: BHP
Perusahaan tambang terbesar dunia, BHP, selama dua tahun terakhir menunjukkan performa yang relatif suram. Meskipun pasar saham global naik pesat karena permintaan AI, harga saham perusahaan ini tidak ikut naik secara seimbang, karena permintaan China yang tertekan menyebabkan harga tembaga dan bijih besi melemah, dan biaya pengangkutan yang meningkat semakin menekan laba.
Namun, 2025 bisa menjadi titik balik. Di satu sisi, China telah meluncurkan beberapa paket kebijakan ekonomi dan diharapkan akan melanjutkan stimulus di tahun baru, yang akan meningkatkan permintaan komoditas. Di sisi lain, perkembangan industri AI yang pesat dan kebutuhan energi yang besar pasti akan mendorong permintaan tembaga secara besar-besaran, bahkan diperkirakan akan muncul “krisis kekurangan tembaga”. Dengan cadangan tembaga yang melimpah, prospek jangka panjang BHP patut diantisipasi.
Analisis Pilihan Saham Komoditas di Pasar Taiwan
Peluang utama: Asia Cement (1102.TW)
Selama beberapa tahun terakhir, industri semen mengalami tekanan laba akibat perlambatan properti di China, tetapi kinerja Asia Cement relatif tahan banting, berkat pengendalian biaya yang jauh lebih baik dibanding pesaing di Taiwan.
Apa keunggulan perusahaan ini? Pengendalian biaya adalah kunci utama. Biaya utama produksi semen berasal dari bahan bakar batu bara, dan Asia Cement menerapkan strategi diversifikasi usaha, menandatangani kontrak pasokan jangka panjang dengan Taiwan Power Company, serta mencapai kesepakatan energi dengan pemerintah China. Selain itu, perusahaan juga berinvestasi di perusahaan pelayaran Yu Min, yang biaya pengangkutannya lebih rendah dibanding pesaing, sehingga memastikan kestabilan laba.
Apa nilai investasi tahun 2025? Kebijakan properti China mulai menunjukkan pelonggaran akhir 2024, dan diharapkan akan semakin didukung tahun ini. Selain itu, pasokan semen global semakin ketat, dan harga diperkirakan akan pulih secara bertahap, sehingga industri semen berpotensi mengalami rebound dari titik terendah. Sebagai pemimpin laba di industri, Asia Cement berpotensi menjadi pionir rebound, dan layak menjadi fokus utama dalam portofolio saham komoditas Taiwan.
Keunggulan biaya yang jelas: Tung Ho Steel (2006.TW)
Berbeda dengan China Steel, pergerakan harga saham Tung Ho Steel lebih berkaitan erat dengan pasar baja, karena alasan utama. China Steel memulai dari peleburan bijih besi dengan biaya produksi lebih tinggi; sedangkan Tung Ho Steel utamanya memproduksi baja dari limbah baja, sehingga biaya energi lebih kompetitif dan dampak kenaikan biaya lingkungan terbatas.
Perusahaan ini memproduksi H-beam untuk bangunan dan perkantoran, permintaannya relatif stabil. Variabel utama yang mempengaruhi laba adalah harga baja akhir. Meskipun permintaan baja diperkirakan akan pulih tahun 2025, tetap perlu memperhatikan kebijakan tarif Trump—jika perusahaan internasional memilih membangun pabrik di AS, pesanan Tung Ho Steel bisa terpengaruh. Kebijakan pemerintah menjadi indikator utama yang harus diikuti.
Tujuh Indikator Kunci Investasi Saham Komoditas
Indikator 1: Analisis Permintaan Akhir
Permintaan produk pertanian biasanya stabil, kecuali terjadi bencana alam besar. Permintaan bahan industri seperti semen, bijih besi, dan tembaga sangat terkait dengan investasi infrastruktur. China sebagai importir terbesar komoditas global, langsung menentukan tren permintaan global melalui kebijakan. Investor harus memperhatikan apakah China akan meluncurkan program investasi infrastruktur baru.
Indikator 2: Perubahan di Sisi Penawaran
Saat perang Rusia-Ukraina pecah tahun 2022, harga pangan dan pupuk melonjak tajam, menunjukkan kekurangan pasokan yang memberi peluang investasi di bidang pertambangan. Untuk investasi di industri pertambangan, perlu memperhatikan perubahan regulasi lingkungan, kecelakaan tambang penting, gangguan produksi minyak, dan kejadian lain yang dapat menyebabkan fluktuasi harga jangka pendek. Keputusan pengurangan produksi OPEC dan OPEC+ juga mempengaruhi pasokan minyak.
Indikator 3: Biaya Logistik dan Transportasi
Pengangkutan barang curah seperti bijih besi dan baja adalah jalur utama pengangkutan komoditas. Indeks harga pengangkutan curah (BDI) mencerminkan kekuatan permintaan pasar—ketika permintaan meningkat, perusahaan akan membayar biaya pengangkutan lebih tinggi, dan indeks BDI akan naik. Melacak tren BDI membantu investor memperkirakan arah harga komoditas jangka pendek.
Indikator 4: Risiko Geopolitik
Kebijakan tarif dan perdagangan internasional langsung mempengaruhi pola impor dan ekspor komoditas. Meskipun membeli dari wilayah dengan biaya terendah adalah pilihan rasional, negara-negara bisa memberlakukan tarif untuk melindungi industri domestik. Investor harus memperhatikan produk mana yang dikenai tarif impor, karena hal ini akan mempengaruhi biaya dan profitabilitas perusahaan terkait.
Indikator 5: Tren Regulasi Lingkungan
Regulasi lingkungan global semakin ketat, dan industri dengan emisi karbon tinggi serta konsumsi energi besar seperti peleburan besi dan petrokimia menghadapi tekanan biaya yang meningkat. Perusahaan pertambangan juga terkena dampak regulasi lingkungan, sehingga biaya operasional terus meningkat. Perubahan regulasi sangat mempengaruhi laba perusahaan komoditas.
Indikator 6: Siklus Ekonomi Global
Harga logam mulia sangat terkait dengan kondisi ekonomi global. Emas terkait permintaan perhiasan dan cadangan bank sentral, sedangkan tembaga dan bijih besi bergantung pada kecepatan perkembangan industri. Saat ekonomi membaik, permintaan dan harga meningkat; namun, ada pengecualian seperti industri kendaraan listrik yang mendorong permintaan nikel secara besar-besaran, tetapi karena over-eksploitasi, harga akhir bisa tertekan akibat kompetisi harga. Keseimbangan penawaran dan permintaan harus dilihat berdasarkan kapasitas produksi saat ini.
Indikator 7: Tingkat Suku Bunga dan Kebijakan
Suku bunga sangat mempengaruhi nilai investasi emas secara langsung. Kebijakan pelonggaran kuantitatif (QE) oleh bank sentral menurunkan daya beli uang tunai dan mendorong bank sentral serta lembaga keuangan meningkatkan cadangan emas. Basel III mengklasifikasikan emas sebagai aset kelas satu yang setara dengan obligasi pemerintah dan kas, sehingga meningkatkan permintaan emas dari sektor keuangan. Dalam lingkungan suku bunga rendah, emas cenderung menguntungkan; sebaliknya, kenaikan suku bunga menjadi hambatan.
Mengapa Memilih Saham Komoditas Daripada Investasi Langsung?
Pendapatan dividen memberikan imbal hasil stabil jangka panjang
Harga komoditas sering kali diatur oleh pemerintah dan cocok untuk trading jangka pendek, tetapi saham perusahaan komoditas dapat memberikan dividen secara reguler, sehingga hasilnya lebih stabil dalam jangka panjang.
Harga saham perusahaan biasanya lebih dulu mencerminkan sentimen positif pasar
Kenaikan dan penurunan harga komoditas membutuhkan waktu lama untuk terealisasi, tetapi harga saham perusahaan terkait biasanya sudah mencerminkan sentimen positif industri lebih awal, memberi peluang bagi investor untuk mengambil posisi lebih awal.
Menghindari risiko pertarungan dana dan short squeeze
Investasi langsung di komoditas rentan terhadap pertarungan dana besar dan risiko short squeeze. Sejarah menunjukkan bahwa lonjakan harga komoditas sering dipicu oleh perang dana, bukan ketidakseimbangan penawaran dan permintaan. Berinvestasi di perusahaan tercatat dapat secara efektif menghindari risiko ini.
Kesimpulan
Dalam konteks global yang memasuki siklus penurunan suku bunga dan kebijakan ekonomi China yang terus mendukung, saham komoditas sedang menghadapi peluang penting untuk dialokasikan. Baik ETF di pasar AS maupun perusahaan utama di Taiwan layak menjadi fokus investasi jangka panjang. Dengan memahami ketujuh indikator investasi di atas, investor akan lebih percaya diri dalam melakukan penempatan posisi yang tepat di pasar saham komoditas.