Ekonomi melemah atau nilai uang menurun: 10 mata uang terlemah pada tahun 2568

Mata uang dari berbagai negara tidak memiliki nilai yang sama. Beberapa mata uang melemah hingga harus menggunakan puluhan ribu untuk menukar satu dolar AS. Situasi ini disebabkan oleh masalah ekonomi yang berbeda-beda, mulai dari inflasi tinggi yang melambung, hingga kekurangan minat dari investor asing dan krisis politik yang tak berujung.

Faktor yang menyebabkan mata uang jatuh nilainya

Pertama, kita harus memahami bahwa nilai tukar dikendalikan oleh banyak faktor, bukan hanya permintaan dan penawaran. Suku bunga yang tinggi, stabilitas politik, inflasi, dan aliran masuk investasi asing semuanya mempengaruhi dinamika nilai tukar. Negara yang mengalami inflasi tinggi secara ekstrem atau mengalami krisis politik parah biasanya mata uangnya akan kalah bersaing.

Tabel perbandingan: 10 mata uang terlemah

Peringkat Mata Uang Negara Nilai tukar terhadap USD
1 Pound Lebanon (LBP) Lebanon 89,751.22
2 Rial Iran (IRR) Iran 42,112.50
3 Dong Vietnam (VND) Vietnam 26,040
4 Kip Laos (LAK) Laos 21,625.82
5 Rupiah Indonesia (IDR) Indonesia 16,275
6 Sum Uzbekistan (UZS) Uzbekistan 12,798.70
7 Franc Guinea (GNF) Guinea 8,667.50
8 Guarani Paraguay (PYG) Paraguay 7,996.67
9 Ariary Madagascar (MGA) Madagaskar 4,467.50
10 Franc Burundi (BIF) Burundi 2,977.00

Urutan penurunan nilai mata uang: dari krisis ekonomi hingga tertinggal

Level 1: Krisis keuangan parah

Pound Lebanon (LBP) - 89,751.22 per 1 USD

Lebanon sedang mengalami kondisi ekonomi terburuk dalam sejarah modern. Pada tahun 2019, negara ini menghadapi inflasi tiga digit. Penduduk kelas menengah hampir hilang, dan sektor perbankan hampir kolaps. Pound Lebanon yang sebelumnya terikat dolar AS kehilangan 90% nilainya. Pasar paralel mengeluh bahwa pemerintah Lebanon gagal membayar utang pada tahun 2020, dan mata uang ini ditinggalkan seperti sepatu tua.

Masalah utama adalah kebijakan nilai tukar berlapis — pemerintah mempertahankan nilai resmi, tetapi pasar nyata membutuhkan banyak uang, menyebabkan ketidakseimbangan besar dalam nilai tukar.

Rial Iran (IRR) - 42,112.50 per 1 USD

Iran dikenal karena ketidakmampuannya mengekspor. Puluhan tahun sanksi ekonomi dari Barat membuat Iran terisolasi dari sistem keuangan global. Ketergantungan pada minyak, ketegangan geopolitik yang bermain-main dengan pasar, dan inflasi yang melonjak membuat rial ambruk.

Negara ini berusaha membuka ekonomi beberapa kali, tetapi larangan penjualan minyak membuat rencana tersebut suram. Oleh karena itu, rial terus melemah.

Level 2: Ekonomi yang masih berkembang tetapi sedang melewati batas

Dong Vietnam (VND) - 26,040 per 1 USD

Vietnam menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang konsisten. Tapi mengapa dong memiliki nilai rendah? Karena dikelola dalam sistem “mengambang terkendali”. Bank sentral Vietnam menjaga agar dong tidak menguat terlalu banyak, karena akan membuat produk Vietnam menjadi lebih mahal dan ekspor menurun — ini adalah strategi ekonomi yang cermat.

Namun, keunggulan dari dong yang lemah adalah Vietnam memiliki surplus perdagangan, pariwisata dan investasi mengalir masuk. Ekonomi yang stabil dan berkembang.

Kip Laos (LAK) - 21,625.82 per 1 USD

Laos adalah negara yang berkembang cukup lambat, sangat bergantung pada pertanian. Investasi asing terbatas, infrastruktur tidak memadai. Secara umum, Laos tidak memiliki faktor menarik untuk menarik mata uang asing. Setelah berakhirnya perang Vietnam, Laos berada di bawah pengaruh Vietnam dan Uni Soviet. Struktur ekonomi yang kaku, dan setelah membuka pasar, kip terus melemah.

Ketika COVID-19 datang, ekonomi Laos sangat terguncang, inflasi melonjak, dan ekonomi menurun, sehingga kip melemah drastis.

Level 3: Negara berkembang dengan masalah

Rupiah Indonesia (IDR) - 16,275 per 1 USD

Indonesia adalah negara besar dengan populasi besar. Tapi mengapa rupiah melemah? Karena bergantung pada ekspor komoditas — seperti minyak, batu bara, dan minyak sawit. Ketika harga komoditas turun, rupiah pun ikut jatuh. Selain itu, Krisis keuangan Asia 1997 menghancurkan rupiah. Utang publik membengkak, dan bank sentral harus melakukan intervensi pasar dengan cadangan terbatas.

Namun, Indonesia bukan negara yang selalu bermasalah. Ekonomi tumbuh, aset pariwisata dan investasi meningkat, dan meskipun masih lemah, rupiah tetap bertahan.

Som Uzbekistan (UZS) - 12,798.70 per 1 USD

Uzbekistan dulu adalah taman belakang Uni Soviet. Setelah merdeka tahun 1991, ekonomi mulai terisolasi. Inflasi membuat som melemah. Saat ini, Uzbekistan tetap berhati-hati, pengendalian ekonomi ketat, investasi asing terbatas. Banyak yang memilih untuk membeli mata uang asing — sehingga som terus melemah setiap hari.

Level 4: Negara kecil dengan nilai ekonomi rendah

Franc Guinea (GNF) - 8,667.50 per 1 USD

Guinea berkembang sangat lambat, infrastruktur lemah, stabilitas politik berlarut-larut. Hal ini menyebabkan investor asing kabur. Franc Guinea tidak menarik, penduduk lokal melarikan diri, dan mata uang ini menjadi tidak dipercaya. Ekonomi kurang beragam, bergantung pada mineral dan sumber daya lainnya. Franc Guinea terus melemah.

Guarani Paraguay (PYG) - 7,996.67 per 1 USD

Paraguay adalah negara kecil di Amerika Selatan. Ekonominya bergantung pada pertanian — beras, kedelai. Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi perang dan ketidakstabilan. Saat ini, ekonomi belum pulih, neraca perdagangan defisit, dan guarani terus melemah.

Ariary Madagaskar (MGA) - 4,467.50 per 1 USD

Madagaskar adalah pulau terpencil. Ketidakstabilan politik, cuaca ekstrem, dan ekonomi yang buruk menyebabkan ariary sangat lemah.

Franc Burundi (BIF) - 2,977.00 per 1 USD

Burundi adalah salah satu negara termiskin di dunia. Krisis pangan, tidak adanya infrastruktur, ketidakstabilan politik, membuat franc Burundi mendekati nilai “program pembelian mainan”.

Kesimpulan: Mengapa mata uang jatuh nilainya

Nilai tukar tidak selalu tetap — angka-angka ini sekadar gambaran yang mencerminkan kondisi ekonomi. Saat negara mengalami krisis, mata uangnya jatuh. Saat negara berkembang, mata uang menguat. Dan yang paling sulit, terkadang mata uang jatuh karena negara memang ingin agar nilainya turun — kebijakan menurunkan nilai tukar agar ekspor lebih kompetitif.

Selain itu, negara-negara dengan inflasi rendah, pariwisata melimpah, dan kebijakan yang jujur biasanya memiliki mata uang yang menguat, seperti rubel Rusia yang tidak terlalu melemah dibandingkan dengan baht Thailand, karena dukungan dari negara tersebut — atau hal yang sama berlaku untuk kekuatan besar lainnya.

Berita lain: harga bitcoin mencapai rekor tertinggi 100k! Beberapa orang berkata, “Kalau nilai uang jatuh, setidaknya aku punya crypto” — tampaknya ini ide yang cerdas… Benarkah?

BTC-0,77%
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)