
FOMO, atau Fear of Missing Out, adalah kecenderungan psikologis untuk mengejar potensi keuntungan dengan mengikuti tren pasar secara impulsif tanpa perencanaan dan manajemen risiko yang matang. Dalam pasar kripto, FOMO sering mendorong seseorang membeli aset yang tengah melonjak, meningkatkan leverage, atau melakukan all-in pada transaksi berdasarkan hype atau peluang terbatas. Perilaku ini biasanya dipicu oleh euforia di media sosial, event hitung mundur, dan narasi kelangkaan. Walaupun FOMO dapat sementara mendorong harga naik, kondisi ini juga membuat pasar rentan terhadap pembalikan tajam saat minat mereda.
Mengenali FOMO secara langsung dapat mengurangi risiko membeli di puncak harga atau terjebak pada posisi merugi. Banyak kerugian terjadi bukan karena arah pasar yang salah, melainkan akibat waktu masuk dan keluar yang kurang tepat. Sebagai contoh, melihat token naik 30% dalam 30 menit bisa membuat seseorang tergoda mengabaikan rencana dan membeli besar-besaran—namun akhirnya mengalami kerugian 40% saat harga terkoreksi. Memahami pemicu emosi Anda membantu tetap disiplin pada harga masuk, ukuran posisi, dan pengaturan stop-loss yang telah ditetapkan.
FOMO juga berdampak pada keamanan aset. Dalam upaya cepat mendapatkan airdrop (proyek yang membagikan token sebagai reward), sebagian pengguna secara sembarangan menandatangani transaksi atau menghubungkan wallet ke situs mencurigakan, sehingga berisiko terkena phishing dan pencurian aset. Memahami alasan Anda merasa tergesa-gesa dapat mendorong Anda berhenti sejenak dan melakukan pengecekan keamanan yang krusial.
FOMO dipicu oleh rasa takut ketinggalan dan melihat orang lain memperoleh keuntungan. Faktor pemicunya meliputi kenaikan harga yang cepat, endorsement dari figur berpengaruh di media sosial, timer hitung mundur, pesan kelangkaan, dan sorotan leaderboard seperti “tiga peraih keuntungan tertinggi hari ini.” Sinyal-sinyal tersebut mengubah “potensi keuntungan yang terlewat” menjadi “kerugian langsung,” sehingga mendorong tindakan tergesa-gesa.
Struktur pasar kripto memperbesar efek FOMO. Token baru sering kali diluncurkan dengan likuiditas rendah dan pembelian terpusat, sehingga harga mudah bergerak dengan dana terbatas. Rilis terbatas dan diskon dengan hitung mundur menciptakan kelangkaan buatan. Daftar tren di platform sosial dan repost viral menimbulkan persepsi bahwa “semua orang sedang masuk.”
FOMO memengaruhi keputusan beli dan jual. Saat harga melonjak, rasa takut menjual terlalu awal bisa menunda ambil untung; saat terjadi koreksi, rasa takut ketinggalan rebound bisa menunda stop-loss. Akibatnya, keuntungan hanya di atas kertas, namun kerugian nyata.
FOMO paling terlihat pada situasi seperti token exchange yang sedang tren, peluncuran koin baru, partisipasi airdrop di DeFi, dan penjualan NFT dengan waktu terbatas.
Di exchange seperti Gate, misalnya: Listing baru kerap disertai pengumuman serentak, papan tren, dan daftar top gainer yang memicu minat beli tinggi. Banyak pengguna melewatkan due diligence dan rencana trading, mengejar harga dengan market order—namun akhirnya terjebak saat harga turun. Pendekatan disiplin adalah menggunakan limit order, menetapkan level take-profit dan stop-loss, serta melakukan eksekusi bertahap untuk meminimalkan slippage dan gejolak emosi.
Pada situasi airdrop DeFi: Rumor reward retroaktif mendorong pengguna berinteraksi dengan protokol secara tergesa-gesa, kadang tanpa memperhatikan izin kontrak dan sumber resmi. Kondisi ini bisa mengakibatkan otorisasi berisiko atau paparan ke situs phishing. Langkah tepat adalah memverifikasi kanal resmi, meninjau izin dengan teliti, dan hanya berpartisipasi setelah pemeriksaan menyeluruh.
Pada NFT dan event berbatas waktu: Proyek kerap mengklaim “hanya tersisa X” atau menampilkan “hitung mundur 15 menit,” mendorong pengguna membayar harga premium karena kelangkaan semu. Banyak event seperti ini mengalami penurunan harga pasar sekunder secara tajam setelah hype berlalu. Menetapkan harga maksimal yang diterima dan periode cooling-off dapat membantu mengendalikan pengeluaran impulsif.
Meminimalkan FOMO berarti menggantikan keputusan emosional dengan strategi berbasis aturan.
Langkah 1: Buat rencana trading. Tentukan rentang harga masuk, ukuran posisi, stop-loss, dan take-profit—menggunakan angka spesifik seperti “masuk di ±2%, tiap order maksimal 20% dari total modal, stop-loss di 8% kerugian.”
Langkah 2: Gunakan alat trading untuk menjalankan rencana. Di Gate, prioritaskan limit order agar tidak mengejar harga; otomatisasi aksi take-profit dan stop-loss sehingga logika “jika... maka...” tertanam pada sistem Anda, mengurangi keraguan saat volatilitas. Untuk pasar yang fluktuatif, pertimbangkan grid trading untuk pembelian/penjualan batch otomatis.
Langkah 3: Bangun atau keluar posisi secara bertahap. Pecah keputusan menjadi beberapa aksi untuk menurunkan risiko beli di puncak jangka pendek—misal, tiga hingga lima order dengan interval harga 2–3% atau jeda waktu tertentu.
Langkah 4: Tetapkan periode cooling-off. Jika menghadapi tren panas atau rekomendasi influencer, beri jeda 10–30 menit untuk meninjau alamat kontrak, sumber resmi, info proyek, dan risiko sebelum berpartisipasi.
Langkah 5: Atur alokasi modal secara bertingkat. Posisi inti ditempatkan pada aset yang sudah diteliti dan nyaman ditahan jangka panjang; posisi eksperimental digunakan untuk trading jangka pendek di mana kerugian tidak berdampak pada keamanan portofolio secara keseluruhan.
Langkah 6: Siapkan kriteria keluar. Tentukan syarat harga dan waktu—misal “kurangi posisi jika target profit 20% tercapai atau jika menahan lebih dari 7 hari tanpa mencapai target”—agar tidak terjebak dalam siklus ‘wait-and-see’ yang tak berujung.
Pada tahun ini, sinyal FOMO semakin terkonsentrasi pada token baru dan hype media sosial.
Sepanjang setahun terakhir, listing baru dan koin tren berotasi lebih cepat di exchange utama. Berdasarkan data platform publik Q2–Q3 2025, koin baru teratas sering mengalami fluktuasi harga harian di atas 20% pada 24 jam pertama, dengan volatilitas jangka pendek di kisaran ±20%–80%. Pergerakan ini memperkuat perilaku chase-buying dan fear-of-missing-out.
Dari sisi sosial, kata kunci seperti “memecoin” dan “airdrop” tetap menempati volume pencarian dan media sosial tertinggi pada paruh pertama 2025—menunjukkan tren naik dibandingkan sepanjang 2024. Puncak hype sangat berkorelasi dengan pergerakan harga cepat, menegaskan hubungan antara sentimen dan volatilitas. Bagi investor harian, meningkatnya buzz sebaiknya direspons dengan memperhatikan volume trading dan tingkat turnover—bukan hanya jumlah holder.
Dari sisi risiko, laporan Q3 2025 dari berbagai tim keamanan menunjukkan maraknya phishing dan airdrops palsu, sering melibatkan tautan tiruan atau permintaan izin menyesatkan. FOMO paling mudah dieksploitasi saat fase “rush-to-participate” ketika pengecekan diabaikan; membangun kebiasaan seperti memverifikasi alamat kontrak dan kanal resmi sangat efektif untuk mengurangi risiko tersebut.
Terakhir, dibandingkan sepanjang 2024, pada 2025 terjadi peningkatan likuiditas pasar dan kemajuan regulasi; volatilitas pada blue-chip assets mulai lebih stabil. Namun, ekstrem akibat FOMO masih sering muncul pada listing baru, event, dan tema jangka pendek. Fokus pada perencanaan dan pengendalian risiko jauh lebih bernilai daripada mencoba mengejar setiap gelombang pasar.
Kesalahan umum akibat FOMO meliputi membeli di harga puncak (chasing), mengikuti tren tanpa analisis, dan eksposur portofolio berlebihan. Melihat orang lain untung dapat mendorong investor masuk tanpa penilaian risiko yang matang—sering kali berujung pada pembelian di puncak harga. Disarankan untuk berhenti sejenak untuk perencanaan rasional sebelum berinvestasi, menetapkan titik stop-loss, dan tidak mengubah strategi hanya karena orang lain berhasil.
Indikator utama antara lain keinginan membeli setiap kali harga naik, menyesal tidak masuk lebih awal, atau terus-menerus memantau pergerakan pasar karena cemas. Jika keputusan Anda terutama didasari alasan “orang lain sedang untung” bukan analisis fundamental, Anda perlu waspada terhadap FOMO. Menetapkan jadwal rutin untuk meninjau pasar dapat membantu mengurangi tekanan emosi dari arus informasi yang terus-menerus.
FOMO didorong oleh emosi, bukan analisis logis—dan sering menyebabkan pembelian di harga tinggi atau panik menjual di harga rendah. Investasi rasional menekankan manajemen risiko dan perencanaan jangka panjang, sementara FOMO mengabaikan fundamental dan risiko. Konflik utamanya adalah FOMO mengejar “keuntungan cepat,” sedangkan investasi rasional menargetkan “hasil stabil.”
FOMO paling sering terjadi saat lonjakan token baru, topik viral di media sosial, fase bull market, atau event exchange berbatas waktu. Periode ini ditandai penyebaran informasi yang cepat dan peluang keuntungan yang jelas—sehingga investor mudah kehilangan objektivitas. Pada saat hype tinggi seperti ini, sebaiknya tetap tenang dan beri waktu cooling-off 24 jam sebelum mengambil keputusan.
FOMO mendorong pembelian reaktif karena takut ketinggalan; greed mendorong pengejaran keuntungan lebih besar. FOMO berasal dari “ketakutan,” sementara greed dari “keinginan.” Di pasar kripto, FOMO sering menyebabkan aksi beli di harga tinggi, sedangkan greed menghambat realisasi profit tepat waktu—kombinasi keduanya bisa mengakibatkan kerugian signifikan.


